<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>TUNTUNAN SHOLAT</title>
	<atom:link href="http://sholat.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sholat.wordpress.com</link>
	<description>TUNTUNAN SHALAT Berdasarkan As-Sunnah As-Shohihah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Nov 2009 02:09:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='sholat.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/59dd5bc73c2d1c115f733b87ad5e7d20?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>TUNTUNAN SHOLAT</title>
		<link>http://sholat.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Letak Perbedaan Pendapat Dalam Masalah Menyentuh Bumi Ketika Sujud</title>
		<link>http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/letak-perbedaan-pendapat-dalam-masalah-menyentuh-bumi-ketika-sujud/</link>
		<comments>http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/letak-perbedaan-pendapat-dalam-masalah-menyentuh-bumi-ketika-sujud/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 02:23:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu zalfa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Yang Lebih Dulu Menyentuh Bumi Ketika Sujud]]></category>
		<category><![CDATA[Ketika Sujud]]></category>
		<category><![CDATA[Meletakkan Lutut]]></category>
		<category><![CDATA[Meletakkan Tangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sholat.wordpress.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Dalam praktek shalat, sebagian kaum muslimin ada yang meletakkan tangan dahulu sebelum lutut pada saat akan sujud dan ada yang sebaliknya lutut dahulu kemudian tangan. Lalu mana yang benar dalam masalah ini !.
Sebelum menguraikan perbedaan pendapat para ulama dan dalil setiap pendapat dalam masalah ini, terlebih dahulu kami akan detailkan letak perbedaan pendapat para ulama tersebut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&blog=1118871&post=143&subd=sholat&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dalam praktek shalat, sebagian kaum muslimin ada yang meletakkan tangan dahulu sebelum lutut pada saat akan sujud dan ada yang sebaliknya lutut dahulu kemudian tangan. Lalu mana yang benar dalam masalah ini !.</p>
<p>Sebelum menguraikan perbedaan pendapat para ulama dan dalil setiap pendapat dalam masalah ini, terlebih dahulu kami akan detailkan letak perbedaan pendapat para ulama tersebut guna memahami masalah ini dengan baik dan benar.</p>
<p>Mendetailkan letak perbedaan pendapat termasuk perkara yang penting. Dan menelantarkan hal tersebut akan menimbulkan beberapa dampak yang negatif, diantaranya :</p>
<ul>
<li>Penggambaran masalah tidak di atas hakikat sebenarnya.</li>
<li>Timbulnya ketimpangan dalam penerapan masalah.</li>
<li>Lahirnya masalah-masalah lain yang membuat permasalahan tersebut semakin rumit dan bertele-tele.</li>
<li>Bisa mengantar ke jalur berlebihan dalam masalah agama, padahal sikap berlebihan tersebut merupakan perkara yang tercela dalam syari’at Islam yang penuh dengan kemudahan ini.</li>
</ul>
<p><strong>Letak Perbedaan Pendapat Dalam Masalah Ini</strong><span id="more-143"></span></p>
<p>Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa 22\449 :</p>
<blockquote><p>“Adapun sholat dengan keduanya (yaitu dengan meletakkan lutut sebelum tangan atau meletakkan tangan sebelum lutut-pent.) adalah boleh menurut kesepakatan para ‘ulama. Bila orang yang sholat menginginkan, (boleh) ia meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya dan bila ia menginginkan, (boleh) ia meletakkan kedua tangannya kemudian kedua lututnya dan sholatnya shohihah (sah/benar) pada dua keadaan (tersebut) menurut kesepakatan para ‘ulama. Tapi (para ‘ulama) berselisih tentang (mana) yang lebih afdhol”.</p></blockquote>
<p>Dari uraian Ibnu Taimiyah di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :</p>
<ul>
<li>Para ulama sepakat bahwa siapa yang sholat, baik ia meletakkan tangan dahulu kemudian lutut ketika akan sujud atau ia mendahulukan lutut lalu tangannya, maka shalatnya adalah sah dan benar.</li>
<li>Para ulama sepakat bahwa meletakkan tangan dahulu kemudian lutut atau sebaliknya, keduanya adalah perkara yang boleh dilakukan dalam shalat.</li>
<li>Letak perbedaan pendapat para ulama hanyalah pada yang mana lebih afdhol (utama) antara meletakkan tangan dahulu lalu lutut dan mendahulukan lutut kemudian tangan.</li>
</ul>
<p><strong>Uraian Pendapat Para Ulama</strong></p>
<p>Tentang mana lebih afdhol antara meletakkan tangan dahulu lalu lutut atau mendahulukan lutut kemudian tangan, ada tiga pendapat dikalangan para ‘ulama :</p>
<p><strong><a href="http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/pendapat-pertama-tangan-dahulu-kemudian-lutut/">Pendapat pertama:</a></strong> Tangan dahulu kemudian lutut. Ini pendapat Imam Al-Auza’iy dan salah satu riwayat dari Imam Malik dan Imam Ahmad. Bahkan Ibnu Hazm berlebihan dalam menguatkan pendapat ini sehingga beliau menganggap bahwa meletakkan tangan sebelum lutut adalah perkara yang wajib.</p>
<p><strong><a href="http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/pendapat-kedua-lutut-dahulu-kemudian-tangan/">Pendapat kedua:</a></strong> Lutut dahulu kemudian tangan. Ini pendapat Muslim bin Yasar, An-Nakh’iy, Sufyan Ats-Tsaury, Abu Hanifah dan dua muridnya Muhammad dan Abu Yusuf, Asy-Syafi’iy, Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan Ibnul Mundzir. Pendapat ini juga dihikayatkan dari ‘Umar bin Khaththab dan anaknya ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhuma. At-Tirmidzy dan Al-Khaththaby mengatakan bahwa ini adalah pendapat kebanyakan para ‘ulama.</p>
<p><strong><a href="http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/pendapat-ketiga-boleh-tangan-dahulu-kemudian-lutut-dan-boleh-lutut-dahulu-kemudian-tangan/">Pendapat ketiga:</a></strong> Boleh tangan dahulu kemudian lutut dan boleh lutut dahulu kemudian tangan. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Malik dan Ahmad.</p>
<p>Baca : Al-Mughny 2/193, Al-Inshof 1/65, Al-Majmu’ 3/395, Syarah Ma’any Al-Astar 1/254-256, Al-Muhalla 4/128, Al-Fatawa 22/449 dan Fathul Bary 2/291.</p>
<hr />
<p style="text-align:left;">Disalin dari <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/10/15/lutut-atau-tangankah-yang-lebih-dulu-menyentuh-bumi-ketika-sujud/">qurandansunnah.wordpress.com</a> dengan beberapa perubahan</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sholat.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sholat.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sholat.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sholat.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sholat.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sholat.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sholat.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sholat.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sholat.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sholat.wordpress.com/143/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&blog=1118871&post=143&subd=sholat&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/letak-perbedaan-pendapat-dalam-masalah-menyentuh-bumi-ketika-sujud/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuzal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendapat Pertama: Tangan Dahulu Kemudian Lutut</title>
		<link>http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/pendapat-pertama-tangan-dahulu-kemudian-lutut/</link>
		<comments>http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/pendapat-pertama-tangan-dahulu-kemudian-lutut/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 02:21:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu zalfa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Yang Lebih Dulu Menyentuh Bumi Ketika Sujud]]></category>
		<category><![CDATA[Ketika Sujud]]></category>
		<category><![CDATA[Meletakkan Lutut]]></category>
		<category><![CDATA[Meletakkan Tangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sholat.wordpress.com/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[Pendapat pertama ini adalah pendapat Imam Al-Auza’iy dan salah satu riwayat dari Imam Malik dan Imam Ahmad. Bahkan Ibnu Hazm berlebihan dalam menguatkan pendapat ini sehingga beliau menganggap bahwa meletakkan tangan sebelum lutut adalah perkara yang wajib.
Dalil-dalil Pendapat Pertama
Ada dua  Hadits yang dijadikan dalil oleh orang yang menganut pendapat pertama ini :
Hadits Pertama: Hadits Abu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&blog=1118871&post=147&subd=sholat&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pendapat pertama ini adalah pendapat Imam Al-Auza’iy dan salah satu riwayat dari Imam Malik dan Imam Ahmad. Bahkan Ibnu Hazm berlebihan dalam menguatkan pendapat ini sehingga beliau menganggap bahwa meletakkan tangan sebelum lutut adalah perkara yang wajib.</p>
<p><strong>Dalil-dalil Pendapat Pertama</strong></p>
<p>Ada dua  Hadits yang dijadikan dalil oleh orang yang menganut pendapat pertama ini :</p>
<p><strong>Hadits Pertama:</strong> Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :</p>
<blockquote><p>“Apabila salah seorang dari kalian (hendak) sujud maka janganlah ia turun bersimpuh sebagaimana turun bersimpuhnya onta tapi hendaknya ia <span style="text-decoration:underline;">meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya</span>“. Dikeluarkan oleh Ahmad 2/381, Al-Bukhary dalam At-Tarikh Al-Kabir 1/1/139, Abu Daud no 840, An-Nasa`i 2/207 dan dalam Al-Kubra no. 678, Ath-Thahawy dalam Syarah Ma’any Al-Atsar 1/254, Ad-Daruquthny 1/344-345, Al-Baihaqy 2/99-100, Al-Hazimy dalam Al-I’tibar Fii An-Nasikh Wal Mansukh minal Atsar hal. 59-60, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.520-522, Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla 4/128-129 dan Al-Baghawy dalam Syarah As-Sunnah 3/134-135 semuanya dari jalan Abdul ‘Aziz bin Muhammad Ad-Darawardy dari Muhammad bin Hasan dari Abu Zinad dari Al-A’raj dari Abu Hurairah.</p></blockquote>
<p><span id="more-147"></span><br />
Dan Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu Daud no 841, At-Tirmidzy no 628, An-Nasa`i 2/207 dan dalam Al-Kubra no 677 dan Al-Baihaqy 2/100 semuanya dari jalan Abdullah bin Nafi’ dari Muhammad bin ‘Abdillah bin Hasan dari Abuz Zinad dari Al-A’raj dari Abu Hurairah dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dengan lafazh :</p>
<blockquote><p>“Apakah salah seorang dari kalian sengaja turun bersimpuh dalam sholatnya sebagaimana onta turun bersimpuh kebumi ?!”</p></blockquote>
<p><strong>Hadits kedua :</strong> Hadits Ibnu Umar</p>
<blockquote><p>“Sesungguhnya beliau (Ibnu Umar) meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya dan (Ibnu Umar) berkata : “Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mengerjakan hal tersebut“.</p></blockquote>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhary secara Mu’allaq 2/290 –Al-Fath- dan disambung oleh Abu Daud sebagaimana dalam Tuhfatul Asyraf 6/156-157, Ibnu Khuzaimah no. 627, Ath-Thohawy 1/254 Ad-Daraquthny 1/344, Al-Hakim 1/348, Al-Baihaqy 2/100 dan Al-Hazimy dalam Al-I’tibar hal. 59. Semuanya dari jalan Abdul ‘Azis bin Muhammad Ad-Darawardy dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar.</p>
<hr />Baca juga:</p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li><a href="http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/pendapat-kedua-lutut-dahulu-kemudian-tangan/">Pendapat Kedua: Lutut Dahulu Kemudian Tangan</a></li>
<li><a href="http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/pendapat-ketiga-boleh-tangan-dahulu-kemudian-lutut-dan-boleh-lutut-dahulu-kemudian-tangan/">Pendapat Ketiga: Boleh Tangan Dahulu Kemudian Lutut dan Boleh Lutut Dahulu Kemudian Tangan</a></li>
</ul>
<hr />Disalin dari <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/10/15/lutut-atau-tangankah-yang-lebih-dulu-menyentuh-bumi-ketika-sujud/">qurandansunnah.wordpress.com</a> dengan beberapa perubahan</p>
<p>&nbsp;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sholat.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sholat.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sholat.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sholat.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sholat.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sholat.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sholat.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sholat.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sholat.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sholat.wordpress.com/147/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&blog=1118871&post=147&subd=sholat&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/pendapat-pertama-tangan-dahulu-kemudian-lutut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuzal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendapat Kedua: Lutut Dahulu Kemudian Tangan</title>
		<link>http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/pendapat-kedua-lutut-dahulu-kemudian-tangan/</link>
		<comments>http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/pendapat-kedua-lutut-dahulu-kemudian-tangan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 02:20:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu zalfa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Yang Lebih Dulu Menyentuh Bumi Ketika Sujud]]></category>
		<category><![CDATA[Ketika Sujud]]></category>
		<category><![CDATA[Meletakkan Lutut]]></category>
		<category><![CDATA[Meletakkan Tangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sholat.wordpress.com/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[Pendapat kedua ini adalah pendapat Muslim bin Yasar, An-Nakh’iy, Sufyan Ats-Tsaury, Abu Hanifah dan dua muridnya Muhammad dan Abu Yusuf, Asy-Syafi’iy, Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan Ibnul Mundzir. Pendapat ini juga dihikayatkan dari ‘Umar bin Khaththab dan anaknya ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhuma. At-Tirmidzy dan Al-Khaththaby mengatakan bahwa ini adalah pendapat kebanyakan para ‘ulama.
Dalil-dalil pendapat kedua
Hadits Pertama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&blog=1118871&post=150&subd=sholat&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pendapat kedua ini adalah pendapat Muslim bin Yasar, An-Nakh’iy, Sufyan Ats-Tsaury, Abu Hanifah dan dua muridnya Muhammad dan Abu Yusuf, Asy-Syafi’iy, Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan Ibnul Mundzir. Pendapat ini juga dihikayatkan dari ‘Umar bin Khaththab dan anaknya ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhuma. At-Tirmidzy dan Al-Khaththaby mengatakan bahwa ini adalah pendapat kebanyakan para ‘ulama.</p>
<p><strong>Dalil-dalil pendapat kedua</strong></p>
<p><strong>Hadits Pertama :</strong> Hadits Wa`il bin Hujr, Hadits Wa`il ini mempunyai dua jalan:</p>
<p>Jalan Pertama :</p>
<blockquote><p>“Saya melihat Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam apabila beliau sujud, beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya dan apabila beliau bangkit beliau mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya“.</p></blockquote>
<p>Dikeluarkan oleh Abu Daud no.388, An-Nasa`i 2/207,234 dan dalam Al-Kubra no.676,740, Ibnu Majah no.838, Ad-Darimy 1/303, Ibnu Khuzaimah no. 626,629, Ibnu hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan no. 1912, Ath-Thohawy 1/255, Ad-Daraquthny 1/345, Al-Baihaqy 2/98, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 518, Al-Baghawy 3/133, Al-Hazimy hal. 60-61, Al-Khatib Al-Baghdady dalam Mudhih Auwan Al-Jama’ Wat Tafriq 2/501 dan Adz-Dzahaby dalam Mu’jamul Muhadditsin hal.218-219 semuanya dari jalan Syarik bin Abdillah An-Nakha’iy dari Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr.<span id="more-150"></span></p>
<p>Jalan Kedua :</p>
<p>Diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqy 1/99 dari jalan Muhammad bin Hujr dari Sa’id bin Abdul Jabbar bin Wa`il dari ibunya dari Wa`il bin Hujr, beliau berkata :</p>
<blockquote><p>“Saya sholat bersama dibelakang Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam kemudian beliau sujud dan yang pertama sampai kebumi adalah kedua lututnya“.</p></blockquote>
<p><strong>Hadits Kedua :</strong> Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu :</p>
<blockquote><p>“Saya melihat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam turun dengan takbir, maka kedua lututnya mendahului kedua tangannya“. Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthny 1/345, Al-Hakim 1/349, Al-Baihaqy 2/99, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtarah no. 2310, Ibnu Hazm Dalam Al-Muhalla 4/129 dan Al-Hazimy hal.60, semuanya dari jalan Al-’Ala’ bin Isma’il Al-’Aththor dari Hafsh bin Ghiyats dari ‘Ashim Al-Ahwal dari Anas.</p></blockquote>
<hr />Baca juga:</p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li><a href="http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/pendapat-pertama-tangan-dahulu-kemudian-lutut/">Pendapat Pertama: Tangan Dahulu Kemudian Lutut</a></li>
<li><a href="http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/pendapat-ketiga-boleh-tangan-dahulu-kemudian-lutut-dan-boleh-lutut-dahulu-kemudian-tangan/">Pendapat Ketiga: Boleh Tangan Dahulu Kemudian Lutut dan Boleh Lutut Dahulu Kemudian Tangan</a></li>
</ul>
<hr />Disalin dari <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/10/15/lutut-atau-tangankah-yang-lebih-dulu-menyentuh-bumi-ketika-sujud/">qurandansunnah.wordpress.com</a> dengan beberapa perubahan</p>
<p>&nbsp;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sholat.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sholat.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sholat.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sholat.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sholat.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sholat.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sholat.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sholat.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sholat.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sholat.wordpress.com/150/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&blog=1118871&post=150&subd=sholat&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/pendapat-kedua-lutut-dahulu-kemudian-tangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuzal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendapat Ketiga: Boleh Tangan Dahulu Kemudian Lutut dan Boleh Lutut Dahulu Kemudian Tangan</title>
		<link>http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/pendapat-ketiga-boleh-tangan-dahulu-kemudian-lutut-dan-boleh-lutut-dahulu-kemudian-tangan/</link>
		<comments>http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/pendapat-ketiga-boleh-tangan-dahulu-kemudian-lutut-dan-boleh-lutut-dahulu-kemudian-tangan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 02:19:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu zalfa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Yang Lebih Dulu Menyentuh Bumi Ketika Sujud]]></category>
		<category><![CDATA[Ketika Sujud]]></category>
		<category><![CDATA[Meletakkan Lutut]]></category>
		<category><![CDATA[Meletakkan Tangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sholat.wordpress.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Malik dan Ahmad. Para ‘ulama yang menguatkan pendapat ketiga ini, ada dua jalan dalam menguatkannya :

Ada yang menguatkan pendapat ini dengan alasan bahwa dalil dari pendapat pertama dan kedua semuanya shohih bisa dipakai berhujjah. Dengan demikian maka kandungan dari dalil-dalil tersebut bisa diamalkan sehingga boleh meletakkan tangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&blog=1118871&post=159&subd=sholat&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Malik dan Ahmad. Para ‘ulama yang menguatkan pendapat ketiga ini, ada dua jalan dalam menguatkannya :</p>
<ol>
<li>Ada yang menguatkan pendapat ini dengan alasan bahwa dalil dari pendapat pertama dan kedua semuanya shohih bisa dipakai berhujjah. Dengan demikian maka kandungan dari dalil-dalil tersebut bisa diamalkan sehingga boleh meletakkan tangan dahulu kemudian lutut atau lutut dahulu kemudian tangan.</li>
<li>Ada yang menguatkan pendapat ketiga ini dengan alasan bahwa seluruh hadits yang berkaitan dengan cara turun untuk sujud, baik tangan dahulu kemudian lutut atau lutut dahulu kemudian tangan, adalah hadits-hadits yang lemah tidak bisa dipakai berhujjah. Karena tidak ada aturan dalam hadits yang shohih yang menjelaskan tentang cara turun untuk sujud tersebut maka ada keluasan, boleh meletakkan tangan dahulu kemudian lutut atau lutut dahulu kemudian tangan.</li>
</ol>
<p><strong>Pembahasan untuk yang melemahkan semua hadits tentang masalah ini</strong><span id="more-159"></span></p>
<p><strong>Hadits pertama :</strong> Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :</p>
<blockquote><p>“Apabila salah seorang dari kalian (hendak) sujud maka janganlah ia turun bersimpuh sebagaimana turun bersimpuhnya onta tapi hendaknya ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya“.</p></blockquote>
<p>Dikeluarkan oleh Ahmad 2/381, Al-Bukhary dalam At-Tarikh Al-Kabir 1/1/139, Abu Daud no 840, An-Nasa`i 2/207 dan dalam Al-Kubra no. 678, Ath-Thahawy dalam Syarah Ma’any Al-Atsar 1/254, Ad-Daruquthny 1/344-345, Al-Baihaqy 2/99-100, Al-Hazimy dalam Al-I’tibar Fii An-Nasikh Wal Mansukh minal Atsar hal. 59-60, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.520-522, Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla 4/128-129 dan Al-Baghawy dalam Syarah As-Sunnah 3/134-135 semuanya dari jalan Abdul ‘Aziz bin Muhammad Ad-Darawardy dari Muhammad bin Hasan dari Abu Zinad dari Al-A’raj dari Abu Hurairah.</p>
<p>Dan Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu Daud no 841, At-Tirmidzy no 628, An-Nasa`i 2/207 dan dalam Al-Kubra no 677 dan Al-Baihaqy 2/100 semuanya dari jalan Abdullah bin Nafi’ dari Muhammad bin ‘Abdillah bin Hasan dari Abuz Zinad dari Al-A’raj dari Abu Hurairah dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dengan lafazh :</p>
<blockquote><p>“Apakah salah seorang dari kalian sengaja turun bersimpuh dalam sholatnya sebagaimana onta turun bersimpuh kebumi ?!”</p></blockquote>
<p><strong>Pembahasan</strong></p>
<p>Dari keterangan Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah dalam Zadul Ma’ad 1/225-231 dan dalam Tahdzib As-Sunan 3/399-400 <em>terkumpul sepuluh sisi kelemahan hadits Abu Hurairah ini dari segi matan maupun sanad.</em> Tentu saja seluruh keterangan dari Ibnul Qoyyim tersebut tidak bisa diterima secara mutlak karena banyak dari keterangan beliau tidak dibangun diatas dasar yang kuat. Tapi secara global, pelemahan beliau terhadap hadits Abu Hurairah ini sangat kuat dan sangat beralasan serta sejalan dengan kaidah para ‘ulama Ahli Hadits.</p>
<p><strong>Penjelasannya sebagai berikut :</strong></p>
<p>Ibnul Qoyyim menyebutkan bahwa hadits ini telah dicacatkan oleh tiga ulama besar pakar Ilalul hadits (cacat-cacat hadits) yaitu Imam Al-Bukhary, Imam At-Tirmidzy dan Imam Ad-Daruquthny.</p>
<p>Berkata Imam Al-Bukhary : “<em>Muhammad bin Abdillah bin Hasan laa yutaba’u ‘alaihi (tidak ada mutaba’ah-nya/pendukung baginya)</em>“. Dan beliau juga berkata : “<em>Saya tidak tahu apakah ia (Muhammad bin Abdillah) mendengar dari Abuz-Zinad atau tidak</em>“. Lihat At-Tarikh Al-Kabir 1/1/139.</p>
<p>Berkata Imam At-Tirmidzy : “<em>Gharib kami tidak mengetahuinya dari hadits Abuz Zinad kecuali dari jalan ini (yaitu dari jalan Muhammad bin Abdillah-pent)</em>“.</p>
<p>Berkata Ad-Daruquthny : “<em>Abdul ‘Aziz Ad-Darawardy bersendirian dengannya dari Muhammad bin Abdillah bin Hasan Al-’Alawy dari Abuz Zinad</em>“.</p>
<p>Dan berkata Imam Al-Baihaqy dalam Sunannya 2/100 : “<em>Bersendirian dengannya Muhammad bin ‘Abdillah bin Hasan</em>“.</p>
<p>Pelemahan hadits Abu Hurairah dan perkataan Imam At-Timidzy sangatlah jelas karena dua perkara .</p>
<ol>
<li><strong> </strong><em>Kalimat “Gharib</em>” dalam penggunaan Imam At-Tirmidzy adalah <em>bermakna lemah.</em><strong> </strong></li>
<li>Perkataan beliau : “<em>kami tidak mengetahuinya dari hadits Abu-Zinad kecuali dari jalan ini</em>” merupakan <em>alasan pelemahan beliau</em>, karena para ulama Ahli Hadits sering melemahkan riwayat seorang rawi bila :<em> Ia bersendirian dalam suatu hadits atau potongan hadits dari seorang rawi yang mempunyai murid yang sangat banyak.</em></li>
</ol>
<p>Hadits yang ia riwayatkan merupakan tumpuan/patokan dalam suatu masalah.</p>
<p>Dan ternyata Abuz Zinad Abdullah bin Dzakwan adalah rawi yang mempunyai banyak murid. Dan tidak seorangpun dari murid beliau yang meriwayatkan hadits ini, seperti Imam Malik, Al-Laits bin Sa’ad, Sufyan Ats-Tsaury, Ibnu ‘Uyainah, Al-A’masy, Syu’aib bin Abi Hamzah, ‘Ubaidillah bin ‘Umar Al-’Umary dan lain-lainnya. Maka tentunya sangatlah aneh kalau Muhammad bin ‘Abdillah bin Hasan bersendirian meriwayatkan hadits ini dari Abuz Zinad sedangkan murid-murid seniornya yang jauh lebih kuat dari Muhammad bin ‘Abdillah tidak meriwayatkannya. Ini makna pelemahan Imam At-Tirmidzy disini dan serupa dengan perkataan Ad-Daruquthny dan Al-Baihaqy di atas.</p>
<p>Kalau ada yang bertanya : “<em>Bukankah Muhammad bin ‘Abdillah bin Hasan adalah rawi tsiqoh (terpercaya), maka tidak apa-apa kalau ia bersendirian dalam meriwayatkan hadits ini</em>“.</p>
<p>Maka jawabannya adalah tidak semua tafarrud (bersendiriannya) seorang rawi di terima bahkan kadang-kadang ia tertolak dan tidak diterima dalam beberapa keadaan yang dikenal di kalangan para ulama ahli ‘ilalul hadits. Dan tafarrud Muhammad bin ‘Abdillah bin Hasan di sini termasuk dari tafarrud yang tidak bisa diterima sebagaimana dalam uraian diatas.</p>
<p>Dan untuk kejelasan bahwa tidak semua tafarrud diterima, perhatikan kaidah yang disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam Al-’Ilal jilid 1 hal. 463-464 no. 1392 berikut ini :</p>
<p><em>“Dikatakan kepada ayahku (Imam Abu Hatim pakar ‘ilalul hadits di zamannya-pent.) :</em></p>
<p><em>“Apakah hadits Abu Hurairah dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tentang sumpah bersama saksi, shohih ?”, maka beliaupun diam sejenak kemudian berkata :</em></p>
<p><em>“Apakah kamu tidak melihat kepada perkataan Ad-Darawardy ?, -yaitu perkataan dia :</em></p>
<p><em>“Saya menyebutkan hadits ini kepada Suhail dan dia tidak mengenalnya”.- Maka saya berkata :</em></p>
<p><em>“Lupanya Suhail tidaklah menolaknya (hadits ini -pent.) karena Robi’ah menghikayatkannya darinya (Suhail) dan Robi’ah tsiqoh (terpercaya) dan seseorang kadang menceritakan hadits kemudian dia lupa”. Maka (Abu Hatim) berkata : “Betul, memang demikian, akan tetapi kami tidak melihat ada mutabi’ (penguat) terhadap riwayatnya dan telah meriwayatkan dari Suhail jama’ah yang sangat banyak (tapi) hadits ini tidak ada pada seorangpun diantara dari mereka”. Saya berkata : “(Bukankah) dia berpendapat akan diterimanya khabar (hadits) dari satu orang”. Beliau berkata : “Benar, akan tetapi saya tidak mengetahui ada patokon yang bisa saya anggap bagi hadits ini dari Abu Hurairah, dan ini adalah patokan dari patokan-patokon yang tidak ada mutaba’ah bagi Robi’ah di atasnya”.</em></p>
<p>Adapun perkataan Imam Al-Bukhary : “<em>Laa yutaba’u ‘alaihi”, ini adalah isyarat akan lemahnya riwayat Muhammad bin ‘Abdillah. Dan juga perkataan beliau “Saya tidak tahu apakah ia (Muhammad bin Abdillah) mendengar dari Abuz-Zinad atau tidak” adalah suatu pensifatan yang menunjukkan sebab pelemahan tersebut walaupun bukan bentuk pelemahan secara mutlak tapi Syeikh ‘Abdurrahman bin Yahya Al-Mu’allimy rahimahullah dalam Muqaddimah Al-Fawa`id Al-Majmu’ah dalam kaidah yang keempat menyebutkan bahwa kadang seorang Imam menganggap mungkar suatu hadits yang zhohir sanadnya shohih walaupun kadang tidak ditemukan didalamnya ‘Illat yang tercela maka mereka mencacatkannya dengan ‘Illat yang tidak tercela</em>. Wallahu A’lam.</p>
<p>Sebagai kesimpulan bahwa hadits ini lemah karena dilemahkan oleh Imam Al-Bukhary, Imam At-Tirmidzy, Ad-Daruquthny dan Ibnul Qoyyim dan pelemahan ini juga dikuatkan oleh Syeikh Al-’Allamah Al-Muhaddits Muqbil bin Hady Al-Wadi’iy rahimahullah.</p>
<p><em>Dan jangan terkecoh dengan anggapan bahwa hadits ini shohih dari sebagian ‘ulama belakangan karena mereka hanya melihat zhohir sanad yang shohih. Wallahu A’lam.</em></p>
<p><strong>Hadits kedua :</strong> Hadits Ibnu Umar</p>
<blockquote><p>“Sesungguhnya beliau (Ibnu Umar) meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya dan (Ibnu Umar) berkata : “Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mengerjakan hal tersebut“.</p></blockquote>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhary secara Mu’allaq 2/290 –Al-Fath- dan disambung oleh Abu Daud sebagaimana dalam Tuhfatul Asyraf 6/156-157, Ibnu Khuzaimah no. 627, Ath-Thohawy 1/254 Ad-Daraquthny 1/344, Al-Hakim 1/348, Al-Baihaqy 2/100 dan Al-Hazimy dalam Al-I’tibar hal. 59. Semuanya dari jalan Abdul ‘Azis bin Muhammad Ad-Darawardy dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar.</p>
<p><strong>Pembahasan</strong></p>
<p><em>Zhahir hadits ini nampak baik</em>, karena itu sebagian ‘ulama menshohihkannya. <em>Tapi yang benar hadits ini adalah hadits yang mungkar</em>, berikut penjelasannya :</p>
<p>Berkata Abu Daud sebagaimana dalam Tuhfatul Asyraf 6/57 : “<em>‘Abdul ‘Azis meriwayatkan dari ‘Ubaidullah hadits-hadits yang mungkar”.</em></p>
<p>Berkata Al-Baihaqy 2/100 : “<em>Saya tidak melihatnya (hadits ini-Pent.) kecuali hanya sebagai suatu kekeliruan”.</em></p>
<p>Dan lihat keterangan mungkarnya riwayat Abdul ‘Azis Ad-Darawardy dari ‘Ubaidullah dalam Syarah Ilal At-Tirmidzy 2/810-811 dalam Ghorotul Fishol karya syaikh Muqbil rahimahullah.</p>
<p><strong>Hadits Ketiga : </strong>Hadits Wa`il bin Hujr.</p>
<p>Hadits Wa`il ini mempunyai dua jalan dan semuanya lemah:</p>
<p><strong>Hadts Ketiga Jalan Pertama :</strong></p>
<blockquote><p>“Saya melihat Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam apabila beliau sujud, beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya dan apabila beliau bangkit beliau mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya“.</p></blockquote>
<p>Dikeluarkan oleh Abu Daud no.388, An-Nasa`i 2/207,234 dan dalam Al-Kubra no.676,740, Ibnu Majah no.838, Ad-Darimy 1/303, Ibnu Khuzaimah no. 626,629, Ibnu hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan no. 1912, Ath-Thohawy 1/255, Ad-Daraquthny 1/345, Al-Baihaqy 2/98, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 518, Al-Baghawy 3/133, Al-Hazimy hal. 60-61, Al-Khatib Al-Baghdady dalam Mudhih Auwan Al-Jama’ Wat Tafriq 2/501 dan Adz-Dzahaby dalam Mu’jamul Muhadditsin hal.218-219 semuanya dari jalan Syarik bin Abdillah An-Nakha’iy dari Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr.</p>
<p><strong>Pembahasan</strong></p>
<p><em>Sanad hadits ini lemah</em> sebagaimana yang dikatakan Imam Al-Baihaqy dalam sunannya 2/100 dan Imam Ad-Daraquthny berkata :” <em>dan tidak ada yang menceritakan (hadits ini) dari Ashim bin Kulaib selain dari Syarik dan Syarik tidak kuat pada apa-apa yang ia bersendirian darinya</em>“.</p>
<p>Dan orang yang memperhatikan biografi Syarik bin Abdillah An-Nakha’iy dari buku-buku Al-Jarh wat Ta’dil (buku-buku yang memuat pujian dan kritikan terhadap para rawi), akan memastikan bahwa Syarik ini adalah dho’iful hadits (lemah haditsnya).</p>
<p>Kemudian Syarik ini telah diselisihi oleh Hammam bin Yahya sebagaimana dalam Sunan Abu Daud no.839 dan dalam Al-Marasil hal. 93, Syarah Ma’any Al-Atsar 1/255, Sunan Al-Baihaqy 2/99, Mu’jam Al-Ausath no. 5911 karya Ath-Thobarany dan Al-I’tibar hal. 61 dari jalan Hammam bin Yahya dari Syaqiq Abu laits dari Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam secara mursal.</p>
<p>Syaqiq Abu Laits guru Hammam pada sanad diatas kata Imam Ath-Thohawy : <em>Laa Yu’raf (tidak dikenal)</em>.</p>
<p>Dan jalan Hammam ini yang mahfuzh (terjaga/benar) sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hazimy dalam Al-I’tibar hal.61.</p>
<p>Dan diriwayatkan pula Abu Daud no.839 dan Al-Baihaqy 2/98-99 dari jalan Hammam bin Yahya dari Muhammad bin Jahadah dari Abdul Jabbar bin Wa’il dari ayahnya yaitu Wa`il bin Hujr dari nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, dan Abdul Jabbar tidak mendengar dari ayahnya.</p>
<p><strong>Hadits Ketiga Jalan Kedua :</strong></p>
<p>Diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqy 1/99 dari jalan Muhammad bin Hujr dari Sa’id bin Abdul Jabbar bin Wa`il dari ibunya dari Wa`il bin Hujr, beliau berkata :</p>
<blockquote><p>“Saya sholat bersama dibelakang Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam kemudian beliau sujud dan yang pertama sampai kebumi adalah kedua lututnya“.</p></blockquote>
<p>Dalam hadits ini terdapat dua kelemahan:</p>
<ol>
<li><strong> </strong>Muhammad bin Hujr, kata Imam Adz-Dzahaby : <em>lahu manakir (ia mempunyai hadits-hadits mungkar.</em></li>
<li><em> </em><strong> </strong>Sa’id bin Abdul Jabbar, disimpulkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam At-Taqrib : Dho’if (lemah).</li>
</ol>
<p><strong>Hadits Keempat :</strong> Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu :</p>
<blockquote><p>“Saya melihat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam turun dengan takbir, maka kedua lutunya mendahului kedua tangannya“.</p></blockquote>
<p>Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthny 1/345, Al-Hakim 1/349, Al-Baihaqy 2/99, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtarah no. 2310, Ibnu Hazm Dalam Al-Muhalla 4/129 dan Al-Hazimy hal.60, semuanya dari jalan Al-’Ala’ bin Isma’il Al-’Aththor dari Hafsh bin Ghiyats dari ‘Ashim Al-Ahwal dari Anas.</p>
<p><strong>Pembahasan</strong></p>
<p>Berkata Abu Hatim ketika ditanya oleh anaknya tentang hadits dengan jalan yang tersebut diatas : <em>“Ini adalah hadits yang mungkar</em>“. Lihat Al-’Ilal 1/188.</p>
<p>Berkata Ad-Daruquthny 1/345 : “<em>Al-Ala` bin Isma’il bersendirian dengannya dari Hafsh dengan sanad ini”</em>.</p>
<p>Dan berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Lisanul I’tidal 4/183 menjelaskan letak mungkarnya riwayat Al-Ala` : “<em>Dan ia (Al-Ala`) telah diselisihi oleh Umar bin Hafsh bin Ghiyats dan ia adalah orang yang paling kuat riwayatnya dari ayahnya, yaitu dia (Umar bin Hafsh) meriwayatkan dari ayahnya dari Al-A’masy dari Ibrahim dari Alqomah dan lainnya dari ‘Umar secara Mauquf dan ini yang Mahfuzh (terjaga)”</em>.</p>
<p>Riwayat ‘Umar bin Hafsh yang tersebut diatas bisa dilihat dalam Syarah Ma’any Al-Atsar 1/256.</p>
<p>Berkata Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad 1/229 : “<em>Dan Al-Ala` ini majhul (tidak dikenal), sama sekali tidak ada penyebutannya dalam Kutubus Sittah”</em>.</p>
<p><strong><em>Catatan</em></strong></p>
<p>Orang yang berpendapat lutut dahulu yang turun kemudian tangan mempunyai beberapa hadits yang lain, tapi semuanya lemah tidak bisa dipakai berhujjah. Silahkan lihat dalam ‘Irwa`ul Gholil no.75 dan Risalah Nahyu Ash-Shuhbah ‘Anin Nuzul Bir-Rukbah.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Kesimpulan Pembahasan  Dari uraian diatas, nampak dengan jelas bahwa dalil-dalil dari pendapat pertama dan pendapat kedua semuanya lemah tidak bisa dipakai berhujjah. Dari pendapat ketiga, alasan yang bisa diterima hanyalah alasan kedua. Dengan demikian pembahasan ini bisa disimpulkan bahwa dalam cara turun untuk sujud ada keluasan, boleh meletakkan tangan dahulu kemudian lutut atau lutut dahulu kemudian tangan. Kesimpulan ini merupakan kesimpulan dari ahli hadits dan mujaddid negeri Yaman Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy rahimahullahu wa balla bil maghfirati tsarahu dan kesimpulan dari beberapa ‘ulama lain. Wallahu Ta’ala A’lam Wa fauqo kulli dzi ‘ilmin ‘alim.</p>
<hr />Baca juga:</p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li><a href="http://sholat.wordpress.com/2009/11/12/pendapat-pertama-tangan-dahulu-kemudian-lutut/">Pendapat Pertama: Tangan Dahulu Kemudian Lutut</a></li>
<li><a href="../2009/11/12/pendapat-kedua-lutut-dahulu-kemudian-tangan/">Pendapat Kedua: Lutut Dahulu Kemudian Tangan</a></li>
</ul>
<hr />Disalin dari <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/10/15/lutut-atau-tangankah-yang-lebih-dulu-menyentuh-bumi-ketika-sujud/">qurandansunnah.wordpress.com</a> dengan beberapa perubahan</p>
<p>&nbsp;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sholat.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sholat.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sholat.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sholat.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sholat.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sholat.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sholat.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sholat.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sholat.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sholat.wordpress.com/159/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&blog=1118871&post=159&subd=sholat&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/pendapat-ketiga-boleh-tangan-dahulu-kemudian-lutut-dan-boleh-lutut-dahulu-kemudian-tangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuzal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yang Melemahkan Hadits Al-&#8217;Ajn (Mengepalkan Kedua Tangan Saat Bangkit Dari Sujud Untuk Berdiri)</title>
		<link>http://sholat.wordpress.com/2009/10/29/yang-melemahkan-hadits-al-ajn-mengepalkan-kedua-tangan-saat-bangkit-dari-sujud-untuk-berdiri/</link>
		<comments>http://sholat.wordpress.com/2009/10/29/yang-melemahkan-hadits-al-ajn-mengepalkan-kedua-tangan-saat-bangkit-dari-sujud-untuk-berdiri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 10:19:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu zalfa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mengepalkan Kedua Tangan Sebagai Tumpuan Saat Hendak Berdiri Dari Sujud]]></category>
		<category><![CDATA[Al-'Ajn]]></category>
		<category><![CDATA[Bangkit Dari Sujud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sholat.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Sepanjang pemeriksaan kami, ada dua hadits yang menyebutkan tentang hal ini :
1.    Hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma :
“Sesungguhnya Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam jika beliau (hendak) berdiri dalam sholatnya, beliau meletakkan kedua tangannya di atas bumi sebagaimana yang dilakukan oleh al-‘ajin (orang yang melakukan ‘ajn)”.
Hadits ini disebutkan oleh Al-Hafizh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&blog=1118871&post=137&subd=sholat&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sepanjang pemeriksaan kami, ada dua hadits yang menyebutkan tentang hal ini :</p>
<p>1.    Hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma :</p>
<blockquote><p>“Sesungguhnya Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam jika beliau (hendak) berdiri dalam sholatnya, beliau meletakkan kedua tangannya di atas bumi sebagaimana yang dilakukan oleh al-‘ajin (orang yang melakukan ‘ajn)”.</p></blockquote>
<p>Hadits ini disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Talkhish Al-Habir (1/466) dan An-Nawawy dalam Al-Majmu’ (3/421).</p>
<p>Berkata Ibnu Ash-Sholah dalam komentar beliau terhadap Al-Wasith –sebagaimana dalam At-Talkhis- : “Hadits ini tidak shohih dan tidak dikenal serta tidak boleh berhujjah dengannya”.<br />
Berkata An-Nawawy : “(Ini) hadits lemah atau batil, tidak ada asalnya”.<span id="more-137"></span></p>
<p>2.    Berkata Al-Azroq bin Qois rahimahullah:</p>
<blockquote><p>:“Saya melihat ‘Abdullah bin ‘Umar dalam keadaan melakukan ‘ajn dalam sholat, i’timad di atas kedua tangannya bila beliau berdiri. Maka saya bertanya : “Apa ini wahai Abu ‘Abdirrahman?”, beliau berkata : “Saya melihat Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam melakukan ‘ajn dalam sholat –yaitu beri’timad (bertumpu dengan kedua tangannya)-”.</p></blockquote>
<p>Diriwayatkan oleh Ath-Thobarony dalam Al-Awsath (4/213/4007) dan Abu Ishaq Al-Harby dalam Ghoribul Hadits (5/98/1) sebagaimana dalam Adh-Dho’ifah no. 967 dari jalan Yunus bin Bukair dari Al-Haitsam dari ‘Athiyah bin Qois dari Al-Azroq bin Qois.</p>
<p>Al-Haitsam di sini adalah Al-Haitsam bin ‘Imran Ad-Dimasyqy, meriwayatkan darinya 5 orang dan tidak ada yang mentsiqohkannya kecuali Ibnu Hibban sebagaimana bisa dilihat dalam Ats-Tsiqot (2/296) dan Al-Jarh wat Ta’dil (4/2/82-83). Para ulama berbeda pendapat tentang kedudukan rowi yang seperti ini sifatnya dan yang benar di sisi kami –wal ‘ilmu ‘indallah- bahwa rowi yang seperti ini dihukumi sebagai rowi yang majhul hal (tidak diketahui keadaannya) yang membuat haditsnya tidak bisa diterima.</p>
<p>Hadits ini juga bisa dihukumi sebagai hadits yang mungkar dari dua sisi :</p>
<ol>
<li>Al-Haitsam ini menyelisihi Hammad bin Salamah (Haditsnya diriwayatkan oleh Al-Baihaqy: 2/135) –yang beliau ini lebih kuat hafalannya- dan juga ‘Abdullah bin ‘Umar Al-‘Umary (Haditsnya diriwayatkan oleh ‘Abdurrozzaq no. 2964 dan 2969), yang keduanya meriwayatkan dari Al-Azroq bin Qois dengan lafazh, “bahwa beliau bertumpu di atas bumi kedua tangan beliau,” tanpa ada tambahan yang menunjukkan bahwa beliau melakukan al-’ajn (mengepalkan kedua tangannya).</li>
<li>Hadits ini berisi tentang tuntunan sholat Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam yang setiap hari disaksikan oleh para shahabat dan sekaligus hadits ini merupakan ‘umdah (pokok satu-satunya) dalam masalah ini. Maka bisa dikatakan : Kenapa hadits ini bersamaan dengan sangat dibutuhkannya, perkaranya disaksikan setiap hari dan merupakan umdah dalam masalah ini hanya diriwayatkan dari jalan Al-Haitsam dari Al-Azroq dari Ibnu ‘Umar?!. Mana murid-murid senior Ibnu ‘Umar, seperti : Salim (anak beliau), Nafi’ dan lain-lainnya, kenapa mereka tidak meriwayatkan hadits ini dari Ibnu ‘Umar tapi justru diriwayatkan oleh orang yang tingkat kemasyhuran dan hafalannya biasa-biasa saja?!</li>
</ol>
<p>Dan termasuk perkara yang semakin menguatkan lemah hadits ini, yaitu bahwa para pengarang kitab hadits terkenal seperti ashhab kutubut tis’ah (Bukhary, Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzy, An-Nasa`iy, Ibnu Majah, Malik, Ahmad dan Ad-Darimy) dan yang lainnya berpaling dari (baca : tidak) meriwayatkan hadits ini bersamaan dengan sangat dibutuhkannya dan isinya adalah suatu perkara yang disaksikan setiap hari. Tapi yang meriwayatkannya adalah Imam Abu Ishaq Al-Harby dan Ath-Thobarony yang beliau ini terkenal sebagai hathibu lail (pencari kayu bakar di malam hari) yang artinya beliau hanya sekedar mengumpulkan riwayat tanpa menyaring mana yang shohih dan mana yang lemah.<br />
Wa fauqo kulli dzi ‘ilmin ‘alim.</p>
<p style="text-align:right;">Sumber: <a href="http://al-atsariyyah.com/?p=735#more-735">al-atsariyyah.com</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sholat.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sholat.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sholat.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sholat.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sholat.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sholat.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sholat.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sholat.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sholat.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sholat.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&blog=1118871&post=137&subd=sholat&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sholat.wordpress.com/2009/10/29/yang-melemahkan-hadits-al-ajn-mengepalkan-kedua-tangan-saat-bangkit-dari-sujud-untuk-berdiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuzal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yang Menshohihkan Hadits Al-&#8217;Ajn (Mengepalkan Kedua Tangan Saat Bangkit Dari Sujud Untuk Berdiri)</title>
		<link>http://sholat.wordpress.com/2009/10/29/yang-menshohihkan-hadits-al-ajn-mengepalkan-kedua-tangan-saat-bangkit-dari-sujud-untuk-berdiri/</link>
		<comments>http://sholat.wordpress.com/2009/10/29/yang-menshohihkan-hadits-al-ajn-mengepalkan-kedua-tangan-saat-bangkit-dari-sujud-untuk-berdiri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 10:04:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu zalfa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mengepalkan Kedua Tangan Sebagai Tumpuan Saat Hendak Berdiri Dari Sujud]]></category>
		<category><![CDATA[Al-'Ajn]]></category>
		<category><![CDATA[Bangkit Dari Sujud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sholat.wordpress.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Mengenai bangkit dari duduk istirahat pada perpindahan rakaat, maka para ulama berbeda pendapat. Hanafiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa yang afdhal adalah, bertumpu pada kedua lututnya bukan kedua tangannya kecuali apabila dalam keadaan masyaqqoh (berat/sulit), sedangkan Malikiyah dan Syafi’iyah berpendapat bahwa yang afdhal adalah bertumpu pada kedua telapak tangan tanpa menggenggam.
Para ulama fikih dan hadits juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&blog=1118871&post=133&subd=sholat&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Mengenai bangkit dari duduk istirahat pada perpindahan rakaat, maka para ulama berbeda pendapat. Hanafiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa yang afdhal adalah, bertumpu pada kedua lututnya bukan kedua tangannya kecuali apabila dalam keadaan masyaqqoh (berat/sulit), sedangkan Malikiyah dan Syafi’iyah berpendapat bahwa yang afdhal adalah bertumpu pada kedua telapak tangan tanpa menggenggam.</p>
<p>Para ulama fikih dan hadits juga berbeda pendapat tentang hadits ‘ajn (mengepal) ketika bangkit dari sujud. Hadits yang dimaksud adalah :</p>
<blockquote><p>“Dari al-Azraq bin Qoys rahimahullâhu beliau berkata : Aku melihat ‘Abdullah bin ‘Umar sedang mengepal ketika sholat, beliau bertumpu pada kedua tangannya ketika berdiri. Saya bertanya kepada beliau, “apa yang anda lakukan ini wahai Abu ‘Abdirrahman?”. Maka beliau menjawab, “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengepal (ketika bangkit) di dalam sholatnya, yaitu bertumpu (pada kedua tangannya).”</p></blockquote>
<p>Hadits di atas dishahihkan oleh al-Muhaddits al-Albani rahimahullâhu dalam Silsilah ash-Shahîhah hadits no 2674.<span id="more-133"></span></p>
<p>Sebagian ulama mendhaifkan hadits di atas, diantaranya adalah Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullâhu dalam buku beliau Lâ Jadîd fî Hukmi ash-Sholâh. Syaikh al-Albani rahimahullâhu lebih merajihkan pendapat mengepal (‘ajn) ketika bangkit berdiri dari sujud dan duduk istirahat.</p>
<p>Syaikh al-Albani juga telah membantah mereka yang mendhaifkan hadits ‘ajn ini di dalam kitab Tamâmul Minnah (196-207) dan Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi juga juga menyinggung masalah ini di dalam buku terbaru beliau Su`âlât ‘Alî bin Hasan li Syaikhihi al-Imâm al-Allâmah a-Muhaddits al-Faqîh asy-Syaikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî Jilid II hal 258-260.</p>
<p>Sekali lagi, ini termasuk masalah khilafiyah ilmiyah yang mu’tabar. Sehingga tidak boleh ada perselisihan dan permusuhan dalam masalah ini. Yang boleh kita lakukan adalah, belajar, menelaah dan membahas permasalahan ini secara ilmiah, dan mendiskusikannya dengan cara yang baik. Wallohu a’lam bish showab.</p>
<p style="text-align:right;">Sumber: <a href="http://konsultasi.stai-ali.ac.id/?p=103">stai-ali.ac.id</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sholat.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sholat.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sholat.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sholat.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sholat.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sholat.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sholat.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sholat.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sholat.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sholat.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&blog=1118871&post=133&subd=sholat&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sholat.wordpress.com/2009/10/29/yang-menshohihkan-hadits-al-ajn-mengepalkan-kedua-tangan-saat-bangkit-dari-sujud-untuk-berdiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuzal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dengan Menggerak-gerakkannya</title>
		<link>http://sholat.wordpress.com/2009/04/03/2-dengan-menggerak-gerakkannya/</link>
		<comments>http://sholat.wordpress.com/2009/04/03/2-dengan-menggerak-gerakkannya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2009 03:50:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu zalfa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isyarat Jari Telunjuk Saat Tasyahud]]></category>
		<category><![CDATA[Isyarat Jari Telunjuk]]></category>
		<category><![CDATA[Menggerak-gerakkan Jari]]></category>
		<category><![CDATA[Tasyahud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sholat.wordpress.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Al Ustadz Kholid bin Syamhudi bin Saman bin Sahal Al-Bantani
Assalamu’alaikum,
Ustadz pada hadits Wa`il bin Hujr (menggerak-gerakan jari telunjuk) terdapat perawi bernama Za`idah bin Qudamah yaitu seorang rawi tsiqoh yang kuat hafalannya.

 Pendapat pertama : Za`idah bin Qudamah telah menyelisihi dua puluh dua orang rawi yang mana kedua puluh dua orang rawi ini semuanya tsiqoh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&blog=1118871&post=112&subd=sholat&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Oleh: Al Ustadz Kholid bin Syamhudi bin Saman bin Sahal Al-Bantani</strong></p>
<p>Assalamu’alaikum,<br />
Ustadz pada hadits Wa`il bin Hujr (menggerak-gerakan jari telunjuk) terdapat perawi bernama Za`idah bin Qudamah yaitu seorang rawi tsiqoh yang kuat hafalannya.</p>
<ul>
<li> <a href="http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&amp;cat=Hadits&amp;article=68&amp;page_order=4" target="_blank">Pendapat pertama</a> : Za`idah bin Qudamah telah menyelisihi dua puluh dua orang rawi yang mana kedua puluh dua orang rawi ini semuanya tsiqoh bahkan sebagian dari mereka itu lebih kuat kedudukannya dari Za`idah sehingga apabila Za`idah menyelisihi seorang saja dari mereka itu maka sudah cukup untuk menjadi sebab syadznya riwayat Za`idah. Semuanya meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib bin Syihab dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr. Dan dua puluh dua rawi tersebut tidak ada yang menyebutkan lafadz <em>yuharrikuha </em>(digerak-gerakkan)</li>
<p><span id="more-112"></span></p>
<li><a href="http://konsultasi.stai-ali.ac.id/?p=70" target="_blank">Pendapat kedua</a> : bahwa seorang perawi tsiqqoh tidak boleh dituduh keliru atau salah, kecuali dengan bukti yang kuat. Sedangkan tidak ada seorang ahli haditspun sejauh yang menuduh Za`idah melakukan kesalahan dan melakukan idraj (penyisipan) lafazh dalam hadits ini, tidak ada pertentangan antara hadits tambahan Za`idah dengan 20 riwayat dari perawi lainnya. Bahkan, bisa kita katakan bahwa <em>ziyadah </em>(tambahan) dari Za`idah adalah tambahan ilmu dan hifzh (hafalan) dari Za`idah. <em>Wallohu a’lam</em></li>
</ul>
<p><strong>Pertanyaannya :</strong></p>
<p>Mana yang rojih dari kedua pendapat ini Ustadz..?<br />
<em>Jazakumullah Khair.</em></p>
<p style="text-align:right;"><em><strong>Aslam ibnu romadhon</strong></em></p>
<p style="text-align:right;"><em><strong><br />
</strong></em></p>
<p style="text-align:left;"><strong>Ustadz Kholid menjawab :</strong><br />
<em>Wa’alaikum salam</em><br />
Memang dalam permasalahan ini kami pandang termasuk permasalahan yang agak rumit. Masalah ini kembali kepada manhaj para ulama dalam menyikapi tambahan perawi tsiqah (Ziyadah ats-Tsiqah) apakah diterima atau tidak.</p>
<p style="text-align:left;">Sebagian ulama memandang hukum masalah ini kembali kepada setiap kasus dan memandang tambahan kalimat yang disampaikan Zaaidah bin Qudamah sebagai tambahan yang <em>SYADZ </em>(menyelisihi yang lebih kuat). Sebab beliau menyelisihi sejumlah besar para tsiqat. Mereka mengadu ketsiqahan Zaaidah dengan kekuatan orang yang menyelisihinya. Kalau demikian jelas Zaaidah kalah dalam kekuatan dan tambahan beliau dinyatakan lemah dan tidak diterima. Diantara ulama yang berpendapat demikian adalah Syaikh Muqbil bin Hadi –<em>Rahimahullahu</em>- dan para murid beliau.</p>
<p style="text-align:left;">Sebagian lagi memandang perlunya mengkompromikan dahulu seluruh riwayat yang ada. Mereka memandang tambahan dalam riwayat Zaaidah tidak bertentangan dengan riwayat perawi tsiqah lainnya. Bila tidak bertentangan maka seharusnya di kompromikan dengan menyatakan bahwa riwayat Zaaidah adalah penjelas dari keumuman isyarat dengan telunjuk yang disampaikan dalam riwayat lainnya. Sehingga tambahan ini diterima dan diamalkan. Konsekwensinya disunnahkan menggerakkan jari telunjuk dalam tasyahud. Diantara ulama yang berpendapat demikian adalah Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani –<em>Rahimahullah</em>- dan para murid beliau.<br />
Yang rojih –<em>wallahu a’lam-</em> dalam pandangan kami adalah pendapat kedua. Sebab mengamalkan seluruh riwayat yang ada lebih utama dari menolak sebagiannya. Demikian juga sikap yang dijelaskan imam Ibnu Hajar <em>–Rahimahullahu</em>- dalam kitab <em>Nukhbat al-Fikaar </em>dalam menyikapi masalah <em>Ziyaadah ats-Tsiqah</em>. Beliau menyatakan:</p>
<p style="text-align:right;font-size:18px;">وَزِيَادَةُ رَاوِيهِمَا مَقْبُوْلَةٌ ، مَا لَمْ تَقَعْ مُنَافِيَةً لِمَنْ هُوَ أوْثَقُ</p>
<p style="text-align:left;"><em>Tambahan perowi Shohih dan hasan diterima selama tidak meniadakan (kontradiktif) terhadap (riwayat) yang lebih tsiqah darinya.</em></p>
<p style="text-align:left;">Hal ini ditambah dengan tambahan pengetahuan yang dimiliki Zaaidah dengan menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan isyarat tersebut adlah menggerakkan jemari telunjuknya dalam tasyahud.<br />
<em>Wallahu a’lam.</em></p>
<p style="text-align:center;"><em><span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://sholat.wordpress.com/2009/04/03/2-dengan-menggerak-gerakkannya/"><img src="http://img.youtube.com/vi/ze8j_wX7Guw/2.jpg" alt="" /></a></span><br />
</em></p>
<p style="text-align:right;">Sumber: <a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/derajat-hadist-mengerak-gerakan-jari-ketika-sholat-2/comment-page-1/#comment-277">ustadzkholid.com</a><em><br />
</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sholat.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sholat.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sholat.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sholat.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sholat.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sholat.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sholat.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sholat.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sholat.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sholat.wordpress.com/112/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&blog=1118871&post=112&subd=sholat&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sholat.wordpress.com/2009/04/03/2-dengan-menggerak-gerakkannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuzal</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img.youtube.com/vi/ze8j_wX7Guw/2.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tidak Mengerak-gerakkannya</title>
		<link>http://sholat.wordpress.com/2009/04/03/1-tidak-mengerak-gerakkannya/</link>
		<comments>http://sholat.wordpress.com/2009/04/03/1-tidak-mengerak-gerakkannya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2009 03:37:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu zalfa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isyarat Jari Telunjuk Saat Tasyahud]]></category>
		<category><![CDATA[Isyarat Jari Telunjuk]]></category>
		<category><![CDATA[Menggerak-gerakkan Jari]]></category>
		<category><![CDATA[Tasyahud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sholat.wordpress.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Al Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain
Para ulama berbeda pendapat dalam masalah mengerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud dan perbedaan tersebut terdiri dari tiga pendapat :

Pertama : Tidak digerak-gerakkan. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan pendapat yang paling kuat dikalangan orang-orang Syafiiyyah dan Hambaliyah dan ini juga merupakan pendapat Ibnu Hazm.
Kedua : Digerak-gerakkan. Dan ini merupakan pendapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&blog=1118871&post=108&subd=sholat&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Oleh: Al Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain</strong></p>
<p>Para ulama berbeda pendapat dalam masalah mengerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud dan perbedaan tersebut terdiri dari tiga pendapat :</p>
<ul>
<li><strong>Pertama</strong> : Tidak digerak-gerakkan. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan pendapat yang paling kuat dikalangan orang-orang Syafiiyyah dan Hambaliyah dan ini juga merupakan pendapat Ibnu Hazm.</li>
<li><strong>Kedua</strong> : Digerak-gerakkan. Dan ini merupakan pendapat yang kuat dikalangan orang-orang Malikiyyah dan disebutkan oleh Al-Qodhi Abu Ya’la dari kalangan Hambaliyah dan pendapat sebagian orang-orang Hanafiyyah dan Syafiiyyah.</li>
<p><span id="more-108"></span></p>
<li><strong>Ketiga</strong> : Ada yang mengkompromikan antara dua hadits di atas. Syaikh Ibnu Utsaimin -<em>rahimahullahu ta’ala</em>- dalam <em>Syarah Zaad Al-Mustaqni’</em> mengatakan bahwa digerak-gerakkan apabila dalam keadaan berdoa, kalau tidak dalam keadaan berdoa tidak digerak-gerakkan. Dan Syaikh Al-Albany -<em>rahimahullahu ta’ala</em>- dalam <em>Tam<span style="text-decoration:underline;">a</span>mul Minnah</em> mengisyaratkan cara kompromi lain yaitu kadang digerakkan kadang tidak.</li>
</ul>
<p>Sebab perbedaan pendapat ini adalah adanya dua hadits yang berbeda kandungan maknanya, ada yang menyebutkan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan dan ada yang menyebutkan jari tidak digerak-gerakkan.</p>
<p>Namun dari pembahasan di atas yang telah disimpulkan bahwa hadits yang menyebutkan jari digerak-gerakkan adalah hadits yang lemah dan demikian pula hadits yang menyebutkan jari tidak digerak-gerakkan adalah hadits yang lemah. Adapun cara kompromi yang disebutkan dalam pendapat yang ketiga itu bisa digunakan apabila dua hadits tersebut di atas shohih bisa dipakai berhujjah tapi karena dua hadits tersebut adalah hadits yang lemah maka kita tidak bisa memakai cara kompromi tersebut, apalagi hadits yang shohih yang telah tersebut di atas bahwa Nabi <span style="font-family:&quot;"><span>r</span></span> hanya sekedar berisyarat dengan jari telunjuk beliau. Maka yang akan kita bahas disini adalah apakah pada lafadz<span> </span>(Arab) yang artinya berisyarat terdapat makna mengerak-gerakkan atau tidak. Penjelasannya adalah bahwa kata “berosyarat” itu mempunyai dua kemungkinan :</p>
<ul>
<li>Pertama : Dengan digerak-gerakkan. Seperti kalau saya memberikan isyarat kepada orang yang berdiri untuk duduk, maka tentunya isyarat itu akan disertai dengan gerakan tangan dari atas ke bawah.</li>
<li>Kedua : Dengan tidak digerak-gerakkan. Seperti kalau saya berada dalam maktabah (perpustakaan) kemudian ada yang bertanya kepada saya : “Dimana letak kitab Shohih Al-Bukh<span style="text-decoration:underline;">o</span>ry?” Maka tentunya saya akan mengisyaratkan tangan saya kearah kitab Shohih Al-Bukh<span style="text-decoration:underline;">o</span>ry yang berada diantara sekian banyak kitab dengan tidak menggerakkan tangan saya.</li>
</ul>
<p>Walaupun kata “berisyarat” itu mengandung dua kemungkinan tapi disini bisa dipastikan bahwa berisyarat yang diinginkan dalam hadits tersebut adalah berisyarat dengan tidak digerak-gerakkan. Hal tersebut bisa dipastikan karena dua perkara :</p>
<p><strong>Pertama :</strong> Ada kaidah di kalangan para ulama yang mengatakan <em>Ash-Shol<span style="text-decoration:underline;">a</span>tu Tauqifiyah</em> (sholat itu adalah tauqifiyah) maksudnya tata cara sholat itu dilaksanakan kalau ada dalil dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Maka hal ini menunjukkan bahwa asal dari sholat itu adalah tidak ada gerakan di dalamnya kecuali kalau ada tuntunan dalilnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan demikian pula berisyarat dengan jari telunjuk, asalnya tidak digerakkan sampai ada dalil yang menyatakan bahwa jari telunjuk itu diisyaratkan dengan digerakkan dan telah disimpulkan bahwa berisyarat dengan menggerak-gerakkan jari telunjuk adalah hadits lemah. Maka yang wajib dalam berisyarat itu dengan tidak digerak-gerakkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Kedua :</strong> Dalam hadits ‘Abdullah bin Mas’ud yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary N0.<span> </span>dan Imam Muslim No.538 :</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<h1 style="text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:20pt;font-family:&quot;" lang="AR-SA">إِنَّ فِي الصَّلاَةِ شُغْلاً</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em> </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span> </span>“Sesungguhnya di dalam sholat adalah suatu kesibukan”</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 .0001pt;"><span>Maka ini menunjukkan bahwa seorang muslim apabila berada dalam sholat ia berada dalam suatu kesibukan yang tidak boleh ditambah dengan suatu pekerjaan yang tidak ada dalilnya dari Al-Qur’an atau hadits Rasulullah </span><span style="font-family:&quot;"><span>r</span></span><span> yang shohih.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 .0001pt;">
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 .0001pt;"><strong><span>Kesimpulan :</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 .0001pt;"><span>Tersimpul dari pembahasan di atas bahwa pendapat yang rojih tentang keadaan jari telunjuk dalam berisyarat<span> </span>(menunjuk) ketika tasyahud adalah tidak digerak-gerakkan. Wallahu A’lam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Lihat pembahasan di atas dalam :</p>
<ul>
<li><!--[if !supportLists]--><span dir="ltr">Kitab <em>Al-Bisyarah Fi Syudzudz Tahrik Al-Usbu’ Fi Tasyahud Wa Tsubutil Isyarah</em>, <em>Al-Muhall<span style="text-decoration:underline;">a</span></em> karya Ibnu Hazm 4/151, <em>Subulus Salam</em> 1/189, <em>Nailul Auth<span style="text-decoration:underline;">a</span>r</em>, <em>‘Aunul Ma’b<span style="text-decoration:underline;">u</span>d</em> 3/196, <em>Tuhfah Al-Ahwadz</em> 2/160.</span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span dir="ltr">Madzhab Hanafiyah lihat dalam : <em>Kif<span style="text-decoration:underline;">a</span>yah Ath-Th<span style="text-decoration:underline;">o</span>lib</em> 1/357.</span></li>
<li><!--[endif]--><span dir="ltr">Madzhab Malikiyah : <em>Ats-Tsamar Ad D<span style="text-decoration:underline;">a</span>ny</em> 1/127, <em>H<span style="text-decoration:underline;">a</span>syiah Al-Adawy</em> 1/356, <em>Al-Faw<span style="text-decoration:underline;">a</span>kih Ad-Daw<span style="text-decoration:underline;">a</span>ny</em> 1/192.</span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><!--[endif]--><span dir="ltr">Madzhab Syafiiyyah dalam : <em>Hilyah Al-Ulama</em> 2/105, <em>Raudhah Ath-Th<span style="text-decoration:underline;">o</span>libin</em> 1/262, <em>Al-Majm<span style="text-decoration:underline;">u</span>’</em> 3/416-417, <em>Al-Iqn<span style="text-decoration:underline;">a</span>’</em> 1/145, <em>H<span style="text-decoration:underline;">a</span>syiah Al-Bujairamy</em> 1/218, <em>Mughny Al-Muht<span style="text-decoration:underline;">a</span>j</em> 1/173.</span></li>
<li><!--[if !supportLists]--><span dir="ltr">Madzhab Hambaliyah lihat dalam :<span> </span><em>Al-Mubdi’</em> 1/162, <em>Al-Fur<span style="text-decoration:underline;">u</span>’</em> 1/386, <em>Al-Insh<span style="text-decoration:underline;">a</span>f</em> 2/76, <em>Kasyful Qon<span style="text-decoration:underline;">a</span></em> 1/356-357.</span></li>
</ul>
<p style="text-align:right;">Sumber: <a href="http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&amp;cat=Hadits&amp;article=68&amp;page_order=5">an-nashihah.com</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sholat.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sholat.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sholat.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sholat.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sholat.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sholat.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sholat.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sholat.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sholat.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sholat.wordpress.com/108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&blog=1118871&post=108&subd=sholat&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sholat.wordpress.com/2009/04/03/1-tidak-mengerak-gerakkannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuzal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dzikir Setelah Sholat</title>
		<link>http://sholat.wordpress.com/2008/10/31/dzikir-setelah-sholat/</link>
		<comments>http://sholat.wordpress.com/2008/10/31/dzikir-setelah-sholat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2008 10:15:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu zalfa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dzikir Setelah Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Munajat]]></category>
		<category><![CDATA[Selesai Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sholat.wordpress.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz kepada seluruh orang yang melihat tulisan ini dari kalangan kaum muslimin
“Merupakan dari perbuatan sunnah, seorang muslim mengucapkan setelah setiap shalat fardu membaca  ASTAGHFIRULLAH tiga kali, kemudian dilanjutkan dengan:


ALLAHUMMA ANTAS SALAAM WA MINKAS SALAAM TABAARAKTA YAA DZAL JALAALI WAL IKRAAM, LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAHU, LAHUL MULKU WA [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&blog=1118871&post=92&subd=sholat&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dari Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz kepada seluruh orang yang melihat tulisan ini dari kalangan kaum muslimin</p>
<p>“Merupakan dari perbuatan sunnah, seorang muslim mengucapkan setelah setiap shalat fardu membaca  <a href="http://sholat.files.wordpress.com/2008/11/astaghfirullahu.gif"><img class="alignnone size-full wp-image-97" title="astaghfirullahu" src="http://sholat.files.wordpress.com/2008/11/astaghfirullahu.gif?w=52&#038;h=28" alt="astaghfirullahu" width="52" height="28" /></a>ASTAGHFIRULLAH tiga kali, kemudian dilanjutkan dengan:</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://sholat.files.wordpress.com/2008/11/dzikir01.gif"><img class="alignnone size-full wp-image-98" title="dzikir01" src="http://sholat.files.wordpress.com/2008/11/dzikir01.gif?w=290&#038;h=86" alt="dzikir01" width="290" height="86" /></a></p>
<p style="text-align:center;" align="center">
<blockquote><p>ALLAHUMMA ANTAS SALAAM WA MINKAS SALAAM TABAARAKTA YAA DZAL JALAALI WAL IKRAAM, LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WAHUWA &#8216;ALAA KULLI SYAI-IN QADIIR, WALAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://sholat.files.wordpress.com/2008/11/dzikir02.gif"><img class="alignnone size-full wp-image-99" title="dzikir02" src="http://sholat.files.wordpress.com/2008/11/dzikir02.gif?w=353&#038;h=86" alt="dzikir02" width="353" height="86" /></a></p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;" align="center">
<blockquote><p>LAA ILAAHA ILLALLAHU, WALAA NA&#8217;BUDU ILLA IYYAHU, LAHUN NI&#8217;MATU WALAHUL FADHLU WALAHUTS TSANAA-UL HASAN, LAA ILAAHA ILLALLAHU, MUKHLISHIINA LAHUDDINA WALAU KARIHAL KAAFIRUUN, ALLAHUMMA LAA MAA NI&#8217;A LIMAA A&#8217;THOITA, WA LAA MU&#8217;TIYA LIMAA MANA&#8217;TA, WALAA YANFA&#8217;  DZAL JADDI MINKAL JADDU.</p></blockquote>
<p>Khusus setelah shalat subuh dan maghrib, bacalah zikir yang dibawah ini sepuluh kali setelah mengucapkan zikir yang di atas:</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://sholat.files.wordpress.com/2008/11/dzikir05.gif"><img class="alignnone size-full wp-image-100" title="dzikir05" src="http://sholat.files.wordpress.com/2008/11/dzikir05.gif?w=305&#038;h=58" alt="dzikir05" width="305" height="58" /></a></p>
<p style="text-align:center;" align="center">
<blockquote><p>LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU YUHYII WAYUMIIT WAHUWA &#8216;ALAA KULLI SYAI-IN QADIIR</p></blockquote>
<p>Kemudian membaca:  <a href="http://sholat.files.wordpress.com/2008/11/subhanallahu001.gif"><img class="alignnone size-full wp-image-101" title="subhanallahu001" src="http://sholat.files.wordpress.com/2008/11/subhanallahu001.gif?w=53&#038;h=24" alt="subhanallahu001" width="53" height="24" /></a>SUBHAANALLAH tigapuluh tiga kali,   <a href="http://sholat.files.wordpress.com/2008/11/alhamdulillah001.gif"><img class="alignnone size-full wp-image-102" title="alhamdulillah001" src="http://sholat.files.wordpress.com/2008/11/alhamdulillah001.gif?w=46&#038;h=28" alt="alhamdulillah001" width="46" height="28" /></a>ALHAMDULILLAH tigapuluh tiga kali;  <a href="http://sholat.files.wordpress.com/2008/11/allahuakbar.gif"><img class="alignnone size-full wp-image-103" title="allahuakbar" src="http://sholat.files.wordpress.com/2008/11/allahuakbar.gif?w=43&#038;h=25" alt="allahuakbar" width="43" height="25" /></a>ALLAHU AKBAR tigapuluh tiga kali; untuk melengkapi bilangan menjadi seratus bacalah:</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://sholat.files.wordpress.com/2008/11/dzikir05.gif"><img class="alignnone size-full wp-image-100" title="dzikir05" src="http://sholat.files.wordpress.com/2008/11/dzikir05.gif?w=305&#038;h=58" alt="dzikir05" width="305" height="58" /></a></p>
<p style="text-align:center;" align="center">
<blockquote><p>LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WAHUWA &#8216;ALAA KULLI SYAI-IN QADIIR</p></blockquote>
<p>Kemudian membaca ayat kursi, kemudian surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Nas, kalau seandainya setelah shalat subuh dan maghrib dibaca tiga kali.</p>
<p>Inilah yang lebih baik (afdhal) dan semoga Allah menganugerahkan shalawat dan salam kepada nabi kita Muhammad dan atas keluarga beliau dan sahabat-sahabatnya serta yang mengikutinya dengan baik sampai hari pembalasan.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sholat.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sholat.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sholat.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sholat.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sholat.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sholat.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sholat.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sholat.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sholat.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sholat.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&blog=1118871&post=92&subd=sholat&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sholat.wordpress.com/2008/10/31/dzikir-setelah-sholat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuzal</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sholat.files.wordpress.com/2008/11/astaghfirullahu.gif" medium="image">
			<media:title type="html">astaghfirullahu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sholat.files.wordpress.com/2008/11/dzikir01.gif" medium="image">
			<media:title type="html">dzikir01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sholat.files.wordpress.com/2008/11/dzikir02.gif" medium="image">
			<media:title type="html">dzikir02</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sholat.files.wordpress.com/2008/11/dzikir05.gif" medium="image">
			<media:title type="html">dzikir05</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sholat.files.wordpress.com/2008/11/subhanallahu001.gif" medium="image">
			<media:title type="html">subhanallahu001</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sholat.files.wordpress.com/2008/11/alhamdulillah001.gif" medium="image">
			<media:title type="html">alhamdulillah001</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sholat.files.wordpress.com/2008/11/allahuakbar.gif" medium="image">
			<media:title type="html">allahuakbar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sholat.files.wordpress.com/2008/11/dzikir05.gif" medium="image">
			<media:title type="html">dzikir05</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Posisi Imam dan Makmum Dalam Sholat Berjamaah</title>
		<link>http://sholat.wordpress.com/2008/06/26/posisi-imam-dan-makmum-dalam-sholat-berjamaah/</link>
		<comments>http://sholat.wordpress.com/2008/06/26/posisi-imam-dan-makmum-dalam-sholat-berjamaah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 09:39:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu zalfa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Posisi Imam dan Makmum Dalam Sholat Berjamaah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sholat.wordpress.com/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[
Klik gambar untuk melihat ukuran gambar penuh.
Untuk download file dalam bentuk pdf klik disini

       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&blog=1118871&post=82&subd=sholat&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://www.flickr.com/photos/7744244@N04/2613108634/sizes/o/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-83" src="http://farm4.static.flickr.com/3241/2613108634_d7caebcb0c.jpg?v=0" alt="" width="98%" height="98%" /></a></p>
<p style="text-align:center;">Klik gambar untuk melihat ukuran gambar penuh.</p>
<p style="text-align:center;">Untuk download file dalam bentuk pdf klik <a title="posisi imam dan makmum dalam sholat berjamaah" href="http://www.box.net/shared/8dw4ojam8s" target="_blank">disini</a></p>
<p style="text-align:center;">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sholat.wordpress.com/82/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sholat.wordpress.com/82/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sholat.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sholat.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sholat.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sholat.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sholat.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sholat.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sholat.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sholat.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sholat.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sholat.wordpress.com/82/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&blog=1118871&post=82&subd=sholat&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sholat.wordpress.com/2008/06/26/posisi-imam-dan-makmum-dalam-sholat-berjamaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuzal</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm4.static.flickr.com/3241/2613108634_d7caebcb0c.jpg?v=0" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>