<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>TUNTUNAN SHOLAT LENGKAP</title>
	<atom:link href="http://sholat.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sholat.wordpress.com</link>
	<description>TUNTUNAN SHALAT Berdasarkan As-Sunnah As-Shohihah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 02 Jan 2012 06:00:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sholat.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/59dd5bc73c2d1c115f733b87ad5e7d20?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>TUNTUNAN SHOLAT LENGKAP</title>
		<link>http://sholat.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sholat.wordpress.com/osd.xml" title="TUNTUNAN SHOLAT LENGKAP" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sholat.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Lewat Dihadapan Orang Yang Sholat</title>
		<link>http://sholat.wordpress.com/2011/12/09/lewat-dihadapan-orang-yang-sholat/</link>
		<comments>http://sholat.wordpress.com/2011/12/09/lewat-dihadapan-orang-yang-sholat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Dec 2011 02:49:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu zalfa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lewat Di Depan Orang Yang Sedang Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Sutrah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sholat.wordpress.com/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wasalam telah menjelaskan dosa bagi orang yang lewat dihadapan orang yang sholat, Beliau bersabda: &#8220;Seandainya seseorang yang lewat di hadapan orang yang sholat mengetahui (dosa) apa yang ditimpakan kepadanya, pasti dia berdiri selama empat puluh (hari) akan lebih baik ketimbang dia lewat di hadapan orang yang sedang sholat.&#8221; Abu al Nadlr (salah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&amp;blog=1118871&amp;post=231&amp;subd=sholat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wasalam</em> telah menjelaskan dosa bagi orang yang lewat dihadapan orang yang sholat, Beliau bersabda:</p>
<blockquote><p>&#8220;Seandainya seseorang yang lewat di hadapan orang yang sholat mengetahui (dosa) apa yang ditimpakan kepadanya, pasti dia berdiri selama empat puluh (hari) akan lebih baik ketimbang dia lewat di hadapan orang yang sedang sholat.&#8221;</p></blockquote>
<p>Abu al Nadlr (salah satu perawi hadits ini) berkata: &#8220;<em>Aku tidak mengetahui, apakah Rasulullah mengatakan empat puluh hari, empat puluh bulan ataukah empat puluh tahun.</em>&#8221; ( HR. al Bukhari dalah shahihnya (I/584) nomor 510 dan Muslim dalam shahihnya (I/363) nomor 507).</p>
<p>Maksud hadits tersebut adalah seandainya mereka yang lewat di hadapan orang yang sholat mengetahui dosa apa yang akan diterima, pasti dia akan lebih memilih untuk berdiri selama empat puluh (hari) daripada harus menerima dosa tersebut. Didalam hadits ini sebenarnya terdapat larangan yang cukup serius dan ancaman yang pedih kepada pelakunya. (Syarh al Nawawi &#8216;alaa Shahiih Muslim (IV/225) dan Fath al Bari (I/585)).<span id="more-231"></span></p>
<p>Yang diharamkan ketika seseorang lewat di depan orang yang sedang melakukan sholat yaitu pada jarak yang dekat. Jarak itu kira-kira seukuran kedua tangan (Jika dibentangkan kedepan). Karena pada radius tersebut biasanya sangat sibuk digunakan oleh orang yang sedang sholat (untuk Ruku&#8217;, sujud lan sebagainya).</p>
<p>Ketika seseorang lewat di hadapan orang yang sholat dan jaraknya cukup jauh, serta tidak menjumpai adanya tabir penghalang yang digunakan oleh orang yang sedang sholat, maka dia tidak mendapatkan dosa. Sebab jika tradisi yang berlaku menganggap suatu jarak tertentu adalah jauh, maka tidak bisa dikatakan orang yang melewati jarak tersebut dianggap lewat di hadapan orang yang sholat. Begitu juga lewat di belakang tabir pembatas yang digunakan orang yang sholat, dia tidak mendapatkan dosa. (Lihat komentar Syaikh Abdul Aziz ibn Bazz terhadap Fath al Baari (I/582)).</p>
<p>Ibn Hazm <em>Rahimahullah</em> berkata:</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>Barangsiapa yang lewat di hadapan imam seukuran tiga dzira&#8217;/hasta, maka dia tidak mendapatkan dosa. Begitu juga dengan orang yang sedang sholat, tidak perlu menghalangi orang yang lewat seukuran jarak tersebut. Namun jika seseorang lewat di hadapannya seukuran tiga dzira&#8217;/hasta atau kurang, maka dia berosa. Kecuali jika tabir penghalang yang dibuat oleh orang yang sholat memang kurang dari tiga dzira&#8217;/hasta, maka tidak mengapa lewat di depan dan belakangnya.</em>&#8221; (al Muhalla (I/261)).</p></blockquote>
<p>Seharusnya orang yang hendak sholat mencari atau membuat tabir penghalang dihadapannya dan tidak berdiri terlalu jauh dengan tabir tersebut, yaitu tidak lebih dari tiga dzira&#8217;/hasta, dan kita juga diperintahkan untuk menghalangi orang yang akan lewat di hadapan kita ketika sedang sholat, sebagaimana sabda Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wasalam</em>:</p>
<blockquote><p>“Janganlah kamu shalat kecuali menghadap sutrah dan jangan biarkan seorang pun lewat di hadapanmu. Jika ada yang ngotot ingin lewat, perangilah ia. Karena sesungguhnya ada setan bersamanya. ” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 800)</p></blockquote>
<p>Dan Allah Ta&#8217;aala tidak membebankan kepada kita kecuali hal yang mempu kita kerjakan, karena pada waktu duduk, mungkin kita kesulitan untuk menghalangi orang yang lewat dihadapan kita. Jadi kita menghalangi orang yang akan lewat sewaktu sholat menurut dengan kemampuan kita saja (Ahkaam al Satrah hal. 54-55 dan Fataawaa Muhammad Rasyid Ridha (I/320)). Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p style="text-align:right;">Maraji: Buku &#8220;Koreksi Total Ritual Shalat&#8221; karya Abu Ubaidah Mansyur bin Hasan bin Mahmud bin Salman, penerbit Pustaka Azzam.</p>
<br />Filed under: <a href='http://sholat.wordpress.com/category/lewat-di-depan-orang-yang-sedang-sholat/'>Lewat Di Depan Orang Yang Sedang Sholat</a>, <a href='http://sholat.wordpress.com/category/sholat/'>Sholat</a> Tagged: <a href='http://sholat.wordpress.com/tag/shalat/'>shalat</a>, <a href='http://sholat.wordpress.com/tag/sholat-2/'>sholat</a>, <a href='http://sholat.wordpress.com/tag/sutrah/'>Sutrah</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sholat.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sholat.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sholat.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sholat.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sholat.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sholat.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sholat.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sholat.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sholat.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sholat.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sholat.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sholat.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sholat.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sholat.wordpress.com/231/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&amp;blog=1118871&amp;post=231&amp;subd=sholat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sholat.wordpress.com/2011/12/09/lewat-dihadapan-orang-yang-sholat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuzal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sholat Qoshor</title>
		<link>http://sholat.wordpress.com/2011/08/22/sholat-qoshor/</link>
		<comments>http://sholat.wordpress.com/2011/08/22/sholat-qoshor/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Aug 2011 04:39:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu zalfa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat Jama' & Qoshor]]></category>
		<category><![CDATA[sholat qashar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sholat.wordpress.com/?p=226</guid>
		<description><![CDATA[Shalat Qashar yaitu meringkas shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Seperti shalat Dhuhur, Ashar dan Isya’. Sedangkan shalat Magrib dan shalat Shubuh tidak bisa diqashar. Shalat Qashar merupakan keringanan yang diberikan Allah subhanahu wata’ala untuk musafir, sebagaimana firman-Nya, ”Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalatmu, (QS.Annisa; 101) Dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&amp;blog=1118871&amp;post=226&amp;subd=sholat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Shalat Qashar yaitu meringkas shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Seperti shalat Dhuhur, Ashar dan Isya’. Sedangkan shalat Magrib dan shalat Shubuh tidak bisa diqashar.</p>
<p>Shalat Qashar merupakan keringanan yang diberikan Allah <em>subhanahu wata’ala</em> untuk musafir, sebagaimana firman-Nya,</p>
<blockquote><p>”Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalatmu, (QS.Annisa; 101)</p></blockquote>
<p>Dan itu merupakan shadaqah (pemberian) dari Allah <em>subhanahu wata’ala</em> yang disuruh oleh Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wasalam</em> untuk menerimanya, (HR.Muslim).</p>
<p>Mengqashar shalat hanya boleh dilakukan oleh orang yang sedang bepergian (musafir). Adapun batas jarak orang dikatakan musafir terdapat perbedaan di kalangan para ulama. Bahkan Ibnu Munzir mengatakan ada dua puluh pendapat. Yang paling kuat adalah tidak ada batasan jarak, selama mereka dinamakan musafir menurut kebiasaan maka ia boleh menjama’ dan mengqashar shalatnya. Karena kalau ada ketentuan jarak yang pasti, Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wasalam </em>mesti menjelaskannya kepada kita, (AlMuhalla, 21/5).<span id="more-226"></span></p>
<p>Seorang musafir baru boleh memulai melaksanakan shalat jama’ dan Qashar apabila ia telah keluar dari kampung atau kota tempat tinggalnya. Ibnu Munzir mengatakan,</p>
<blockquote><p>“Saya tidak mengetahui Nabi menjama’ dan mengqashar shalatnya dalam musafir kecuali setelah keluar dari Madinah”</p></blockquote>
<p>Dan Anas menambahkan,</p>
<blockquote><p>&#8220;Saya shalat Dhuhur bersama Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wasalam</em> di Madinah empat rakaat dan di Dzulhulaifah (sekarang Bir Ali berada di luar Madinah) dua rakaat&#8221; (HR.Bukhari Muslim)</p></blockquote>
<p>Ketika seorang musafir yang mengqashar shalatnya, ia tidak mesti harus menjama’ shalatnya, begitu juga sebaliknya. Karena boleh saja ia mengqashar shalatnya dengan tidak menjama’nya. Seperti melakukan shalat Dzuhur 2 rakaat diwaktunya dan shalat Ashar 2 rakaat di waktu Ashar. Dan seperti ini lebih afdhal bagi mereka yang musafir namun bukan dalam perjalanan. Seperti seorang yang berasal dari Surabaya bepergian ke Sulawesi, selama ia di sana ia boleh mengqashar shalatnya dengan tidak menjama’nya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi ketika berada di Mina.</p>
<p>Menurut Jumhur (mayoritas) ulama’, seorang musafir yang sudah menentukan lama musafirnya lebih dari empat hari maka ia tidak boleh mengqashar shalatnya. Tetapi kalau waktunya empat hari atau kurang maka ia boleh mengqasharnya. Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wasalam</em> ketika haji Wada’. Beliau tinggal selama 4 hari di Mekkah dengan menjama’ dan mengqashar shalatnya. Adapun seseorang yang belum menentukan berapa hari dia musafir, atau belum jelas kapan dia bisa kembali ke rumahnya maka dibolehkan menjama’ dan mengqashar shalatnya. Inilah yang dipegang oleh mayoritas ulama berdasarkan apa yang dilakukan oleh Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wasalam</em>. Ketika penaklukkan kota Mekkah beliau tinggal sampai sembilan belas hari atau ketika perang tabuk sampai dua puluh hari beliau mengqashar shalatnya (HR.Abu Daud). Ini disebabkan karena ketidaktahuan kapan musafirnya berakhir. Sehingga seorang yang mengalami ketidakpastian jumlah hari dia musafir boleh saja menjama’ dan mengqashar shalatnya (Fiqhussunah I/241).</p>
<p>Seorang musafir boleh berjamaah dengan Imam yang muqim (tidak musafir). Begitu juga ia boleh menjadi imam bagi makmum yang muqim. Kalau dia menjadi makmum pada imam yang muqim, maka ia harus mengikuti imam dengan melakukan shalat Itmam (tidak mengqashar). Tetapi kalau dia menjadi Imam maka boleh saja mengqashar shalatnya, dan makmum menyempurnakan rakaat shalatnya setelah imammya salam.</p>
<p>Dan sunah bagi musafir untuk tidak melakukan shalat sunah rawatib (shalat sunah sesudah dan sebelum shalat wajib), Kecuali shalat witir dan Tahajjud, karena Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wasalam </em>selalu melakukannya baik dalam keadaan musafir atau muqim. Dan begitu juga shalat- shalat sunah yang ada penyebabnya seperti shalat Tahiyatul Masjid, shalat gerhana, dan shalat janazah.</p>
<br />Filed under: <a href='http://sholat.wordpress.com/category/sholat/'>Sholat</a>, <a href='http://sholat.wordpress.com/category/sholat-jama-qoshor/'>Sholat Jama' &amp; Qoshor</a> Tagged: <a href='http://sholat.wordpress.com/tag/sholat-qashar/'>sholat qashar</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sholat.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sholat.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sholat.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sholat.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sholat.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sholat.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sholat.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sholat.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sholat.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sholat.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sholat.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sholat.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sholat.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sholat.wordpress.com/226/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&amp;blog=1118871&amp;post=226&amp;subd=sholat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sholat.wordpress.com/2011/08/22/sholat-qoshor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuzal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sholat Jama&#8217;</title>
		<link>http://sholat.wordpress.com/2011/08/22/sholat-jama/</link>
		<comments>http://sholat.wordpress.com/2011/08/22/sholat-jama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Aug 2011 04:18:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu zalfa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat Jama' & Qoshor]]></category>
		<category><![CDATA[shalat jama']]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sholat.wordpress.com/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[Shalat jama’ yaitu melaksanakan dua shalat wajib dalam satu waktu. Seperti melakukan shalat Dzuhur dan shalat Ashar di waktu Dzuhur yang dinamakan Jama’ Taqdim, atau melakukannya di waktu Ashar yang dinamakan Jama’ Takhir. Dan melaksanakan shalat Magrib dan shalat Isya’ bersamaan di waktu Magrib atau melaksanakannya di waktu Isya’. Shalat yang boleh dijama’ adalah semua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&amp;blog=1118871&amp;post=223&amp;subd=sholat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Shalat jama’ yaitu melaksanakan dua shalat wajib dalam satu waktu. Seperti melakukan shalat Dzuhur dan shalat Ashar di waktu Dzuhur yang dinamakan Jama’ Taqdim, atau melakukannya di waktu Ashar yang dinamakan Jama’ Takhir. Dan melaksanakan shalat Magrib dan shalat Isya’ bersamaan di waktu Magrib atau melaksanakannya di waktu Isya’.</p>
<p>Shalat yang boleh dijama’ adalah semua shalat Fardhu kecuali shalat Shubuh. Shalat shubuh harus dilakukan pada waktunya, tidak boleh dijama’ dengan shalat Isya’ atau shalat Dhuhur.</p>
<p>Shalat jama’ merupakan keringanan yang diberikan Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em>, menjama’ shalat tidak hanya untuk musafir, tetapi boleh juga dilakukan orang yang sedang sakit, atau karena hujan lebat atau banjir yang menyulitkan seorang muslim untuk bolak- balik ke masjid. dalam keadaan demikian kita dibolehkan menjama’ shalat. Ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim,<span id="more-223"></span></p>
<blockquote><p>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjamak antara zhuhur dan ashar, maghrib dan isya` di Madinah, bukan karena ada ketakutan dan bukan pula karena hujan.” (HR. Muslim no. 1151)</p></blockquote>
<p>Lalu Waki’ bin Al-Jarrah bertanya kepada Ibnu Abbas mengenai sebabnya, maka beliau menjawab, “Beliau ingin supaya tidak memberatkan umatnya.”<br />
Hadits di atas jelas menunjukkan bolehnya menjamak shalat walaupun tidak ada udzur.</p>
<p>Imam Nawawi dalam kitabnya Syarah Muslim,V/215, dalam mengomentari hadits ini dengan mengatakan,</p>
<blockquote><p>“Mayoritas ulama membolehkan menjama’ shalat bagi mereka yang tidak musafir bila ada kebutuhan yang sangat mendesak, dengan catatan tidak menjadikan yang demikian sebagai tradisi (kebiasaan). Pendapat demikian juga dikatakan oleh Ibnu Sirin, Asyhab, juga Ishaq Almarwazi dan Ibnu Munzir, berdasarkan perkataan Ibnu Abbas ketika mendengarkan hadist Nabi di atas, “Beliau tidak ingin memberatkan umatnya, sehingga beliau tidak menjelaskan alasan menjama’ shalatnya, apakah karena sakit atau musafir”.</p></blockquote>
<p>Dari sini para sahabat memahami bahwa rasa takut dan hujan bisa menjadi udzur untuk seseorang boleh menjama’ shalatnya, seperti seorang yang sedang musafir. Dan menjama’ shalat karena sebab hujan adalah terkenal di zaman Nabi. Itulah sebabnya dalam hadist di atas hujan dijadikan sebab yang membolehkan untuk menjama’, (Al Albaniy,Irwa’, III/40).</p>
<p>Bagi orang yang melaksanakan jama’ Taqdim diharuskan untuk melaksanakan langsung shalat kedua setelah selesai dari shalat pertama. Berbeda dengan jama’ ta’khir tidak mesti Muwalah ( langsung berturut-turut). Karena waktu shalat kedua dilaksanakan pada waktunya. Seperti orang yang melaksanakan shalat Dhuhur diwaktu Ashar, setelah selesai melakukan shalat Dhuhur boleh saja dia istirahat dulu kemudian dilanjutkan dengan shalat Ashar. Walaupun demikian melakukannya dengan cara berturut-turut lebih afdhal karena itulah yang dilakukan oleh Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wasalam</em>.</p>
<br />Filed under: <a href='http://sholat.wordpress.com/category/sholat/'>Sholat</a>, <a href='http://sholat.wordpress.com/category/sholat-jama-qoshor/'>Sholat Jama' &amp; Qoshor</a> Tagged: <a href='http://sholat.wordpress.com/tag/shalat-jama/'>shalat jama'</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sholat.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sholat.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sholat.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sholat.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sholat.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sholat.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sholat.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sholat.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sholat.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sholat.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sholat.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sholat.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sholat.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sholat.wordpress.com/223/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&amp;blog=1118871&amp;post=223&amp;subd=sholat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sholat.wordpress.com/2011/08/22/sholat-jama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuzal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Ma&#8217;mum Masbuq Mendapatkan Rakaat, Ketika Mendapati Imam Sedang Ruku&#8217;</title>
		<link>http://sholat.wordpress.com/2011/08/13/apakah-mamum-masbuq-mendapatkan-rakaat-ketika-mendapati-imam-sedang-ruku/</link>
		<comments>http://sholat.wordpress.com/2011/08/13/apakah-mamum-masbuq-mendapatkan-rakaat-ketika-mendapati-imam-sedang-ruku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 09:58:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu zalfa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Shalat Berjama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[ma'mum masbuq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sholat.wordpress.com/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[Dalam masalah: ma’mum masbuq (terlambat) mendapati imamnya ruku’, apakah dihitung mendapatkan raka’at? Telah terjadi perbedaan pendapat diantara ulama, yaitu ada dua pendapat ulama. PENDAPAT PERTAMA Mendapatkan raka’at. Karena ma’mum masbuq (terlambat) dapat raka’at, jika dia mendapatkan ruku’ bersama imam, sebelum imam menegakkan tulang punggungnya. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama Salaf (dahulu) dan Khalaf (yang datang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&amp;blog=1118871&amp;post=216&amp;subd=sholat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam masalah: ma’mum masbuq (terlambat) mendapati imamnya ruku’, apakah dihitung mendapatkan raka’at? Telah terjadi perbedaan pendapat diantara ulama, yaitu ada dua pendapat ulama.</p>
<p><strong>PENDAPAT PERTAMA</strong></p>
<p><strong></strong>Mendapatkan raka’at. Karena ma’mum masbuq (terlambat) dapat raka’at, jika dia mendapatkan ruku’ bersama imam, sebelum imam menegakkan tulang punggungnya.</p>
<p>Ini merupakan pendapat mayoritas ulama Salaf (dahulu) dan Khalaf (yang datang kemudian). Demikian juga pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal, serta disepakati para pengikut madzhab empat. Hal ini juga diriwayatkan dari para sahabat: Ali, Ibnu Mas’ud, Zaid, dan Ibnu Umar. Pendapat ini juga dirajihkan oleh Imam Ibnu Abdil Barr, Imam Nawawi, Ash Shan’ani, Asy Syaukani pada pendapat kedua, Syaikh Bin Baaz, Syaikh Al Albani dan lainnya. [1]</p>
<p>Pendapat inilah yang lebih kuat, insya Allah.</p>
<p>Adapun diantara dalil-dalil pendapat ini ialah:</p>
<p>Hadits dari Al Hasan:</p>
<blockquote><p>Dari Abu Bakrah Radhiyallahu &#8216;anhu, bahwa dia sampai kepada Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ketika beliau sedang ruku’, lalu dia ruku’ sebelum sampai ke shaf (lalu dia berjalan menuju shaf). Kemudian dia menyebutkan hal itu kepada Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, “Semoga Allah menambahkan semangat terhadapmu, dan janganlah engkau ulangi.” [HR Bukhari, no. 783. Tambahan dalam kurung riwayat Abu Dawud no. 684]</p></blockquote>
<p>Para ulama berbeda pendapat tentang makna sabda Nabi وَلاَ تعد , karena dapat dibaca:</p>
<ol>
<li> وَلاَ تُعِدْ janganlah engkau mengulangi). Sehingga maknanya “janganlah engkau mengulangi shalatmu, karena sudah sah”.</li>
<li> وَلاَ تَعْدُ janganlah engkau berlari; terburu-buru.</li>
<li> وَلاَ تَعُدْ janganlah engkau kembali). Sehingga maknanya “janganlah engkau kembali terburu-buru memasuki ruku’ sebelum sampai di shaf”. Atau “janganlah engkau kembali terlambat”.</li>
</ol>
<p><span id="more-216"></span><br />
Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata, “Maknanya menurut ahli ilmu ialah,’Semoga Allah menambahkan semangat terhadapmu menuju shalat, dan janganlah engkau kembali terlambat dari shalat’.” [2]</p>
<p>Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,“Bahkan larangan itu kembali kepada apa yang telah disebutkan sebelumnya. Yaitu: ruku’ sebelum sampai shaf.” [3]</p>
<p>Demikian juga Ash Shan’ani memahami sebagaimana Ibnu Qudamah tersebut.[4]</p>
<p>Tetapi pendapat Ibnu Qudamah rahimahullah ini tertolak dengan banyaknya atsar (riwayat) dari para sahabat yang melakukan hal ini. Seperti: Abu Bakar Ash Shiddiq, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin Zubair. Yaitu ketika mereka mendapatkan imam dalam keadaan ruku’, maka mereka bertakbir lalu ruku’, dan berjalan ke shaf dalam keadaan ruku’. Riwayat-riwayat itu shahih dan disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no. 229, yang -insya Allah- sebagiannya akan kami sebutkan di bawah nanti.</p>
<p>Ash Shan’ani rahimahullah berkata: Telah diperselisihkan oleh ulama, tentang makmum yang mendapatkan imam ruku’, lalu dia ruku’ bersama imam. Apakah gugur (kewajiban) membaca Al Fatihah pada raka’at itu bagi orang yang mewajibkan Al Fatihah, sehingga dihitung mendapatkan raka’at itu. Atau tidak gugur, sehingga tidak dihitung mendapatkan raka’at. Ada yang berpendapat: raka’at itu dihitung, karena dia mendapatkan imam sebelum imam mengangkat punggungnya. Ada juga yang berpendapat: itu tidak dihitung, karena Al Fatihah telah terlepas darinya.</p>
<p>Kami telah membicarakan hal itu dalam masalah tersendiri. Dan yang lebih kuat -menurut kami- ialah mencukupi (yaitu dihitung dapat raka’at, red.). Diantara dalilnya, ialah hadits Abu Bakrah, yang dia ruku’ ketika orang-orang lain ruku, lalu Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam membenarkannya atas hal itu.” [5]</p>
<p>Apapun makna kalimat di atas, di dalam hadits ini nyata, bahwa Abu Bakrah menjadi ma’mum masbuq mendapatkan imam (yaitu Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam) sedang ruku’, lalu dia ruku’ bersama imam, dan beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak memerintahkannya menambah raka’at lagi. Demikianlah dalil dalam masalah ini.</p>
<p>Sabda Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa salla :</p>
<blockquote><p>Jika kamu mendatangi shalat, padahal kami sedang sujud, maka sujudlah, dan janganlah kamu menghitungnya sesuatu (mendapatkan raka’at). Dan barangsiapa mendapatkan raka’at (ruku’), maka dia mendapatkan shalat. [HR Abu Dawud no. 893. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 1/169].</p></blockquote>
<p>Sabda Nabi : Barangsiapa mendapatkan raka’atan (raka’at atau ruku’), maka dia mendapatkan shalat, dapat bermakna:</p>
<ol>
<li>Orang yang shalat mendapatkan satu raka’at kemudian waktunya habis, maka shalatnya sah.</li>
<li>Ma’mum masbuq mendapatkan satu raka’at terakhir dari shalat jama’ah, maka dia mendapat pahala shalat jama’ah tersebut.</li>
<li>Ma’mum masbuq mendapatkan ruku’ bersama imam, sebelum imam bangkit dari ruku’nya, dia mendapatkan raka’at tersebut.</li>
</ol>
<p>Makna ketiga ini sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain dengan lafazd</p>
<blockquote><p>Barangsiapa mendapatkan rak’atan (ruku’) [6], maka dia mendapatkan shalat, sebelum imam menegakkan tulang punggungnya. [HR Abu Dawud no. 893. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 1/169]</p></blockquote>
<p>Zaid bin Wahb berkata,“Aku keluar bersama Abdullah –yakni: Ibnu Mas’ud- dari rumahnya menuju masjid. Ketika kami sampai di tengah masjid, imam ruku’. Lalu Abdullah bertakbir dan ruku’, dan aku ruku’ bersamanya. Kemudian dalam keadaan ruku’ kami berjalan sehingga sampai shaf, ketika orang-orang mengangkat kepala mereka. Setelah imam menyelesaikan shalatnya, aku berdiri, karena aku menganggap tidak mendapatkan raka’at. Namun Abdullah memegangi tanganku dan mendudukanku, kemudian berkata,“Sesungguhnya engkau telah mendapatkan (raka’at).” [7]</p>
<p><strong>PENDAPAT KEDUA</strong></p>
<p>Tidak mendapatkan raka’at. Karena ma’mum masbuq (terlambat) mendapatkan raka’at, jika dapat membaca Al Fatihah, atau mendapatkan imam berdiri sebelum ruku’.</p>
<p>Di antara dalilnya ialah:<br />
Sabda Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</p>
<blockquote><p>Tidak (sah atau sempurna) shalat bagi orang yang tidak membaca fatihatul kitab. [HR Bukhari, no. 756; Muslim no. 394; dan lainnya dari Ubadah bin Ash Shamit].</p></blockquote>
<p>Diantara ulama yang berpendapat demikian ialah Imam Bukhari, Ibnu Hazm, dan satu pendapat dari Asy Syaukani. [8]</p>
<p>Walaupun hadits ini shahih, namun tidak dapat dipakai sebagai dalil dalam masalah ini. Karena dalil-dalil dari pendapat pertama secara tegas menunjukkan, bahwa ma’mum yang mendapatkan imam ruku’, berarti ia mendapatkan raka’at tersebut. Wallahu a’lam.</p>
<p>Dengan keterangan di atas nampaklah, bahwa pendapat pertama lebih kuat. Wallahu a’lam.</p>
<p>Adapun hadits yang disangka diriwayatkan oleh Imam Bukhari berikut</p>
<blockquote><p>Dari Uqbah bin Amir Radhiyallahu &#8216;anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Jika engkau mendapatkan orang-orang sedang ruku’, hal itu tidak dihitung raka’at.”</p></blockquote>
<p>Keterangan kami.</p>
<ol>
<li>Kami sudah berusaha mencari hadits tersebut di dalam Shahih Bukhari, namun kami tidak mendapatkannya.</li>
<li>Yang kami ketahui, riwayat di atas merupakan ucapan Abu Hurairah, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Khairul Kalam Fil Qira’ah Khalfal Imam. Dikenal dengan Juz ul Fil Qira’ah.</li>
</ol>
<p>Imam Bukhari berkata:</p>
<blockquote><p>Ma’qil bin Malik telah menceritakan kepada kami. Dia berkata,’Abu ‘Awanah telah menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Ishaq, dari Abdurrahman bin Al A’raj, dari Abu Hurairah, dia berkata:</p>
<p>Dari Uqbah bin Amir Radhiyallahu &#8216;anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,“Jika engkau mendapatkan orang-orang sedang ruku’, hal itu tidak dihitung raka’at.” [9]</p></blockquote>
<p>Karena riwayat ini tidak diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya, maka tidak boleh dikatakan “riwayat Imam Bukhari” saja. Karena kebiasaan ulama ahli hadits, jika menyebutkan “riwayat Imam Bukhari”, itu berarti terdapat di dalam Shahihnya, yang memang hadits-hadits di dalamnya merupakan hadits-hadits shahih. Adapun jika suatu riwayat disebutkan oleh Imam Bukhari dalam selain kitab Shahihnya, maka harus disebutkan dengan lengkap, karena memang tidak ada jaminan keshahihan riwayat tersebut.</p>
<p>Adapun sanad riwayat ini, dha’if sebagaimana disebutkan Syaikh Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Shahihah no. 229. Kedha’ifan itu karena perawi bernama Ma’qil bin Malik dinyatakan matruk (ditinggalkan haditsnya) oleh Al Azdi. Tidak ada yang menganggapnya tsiqah (terpercaya), kecuali Ibnu Hibban. Sedangkan Ibnu Hibban terkenal tasahulnya (mempermudah menyatakan tsiqah terhadap perawi hadits). Demikian juga Muhammad bin Ishaq seorang mudallis (perawi yang sering menyamarkan hadits). Maka, ketika dia meriwayatkan dengan ‘an’anah (dari Fulan), riwayatnya tidak diterima; karena tidak menyebutkan secara tegas, bahwa dia menerima riwayat tersebut.</p>
<p>Kemudian seandainya riwayat ini shahih, tetapi bertentangan dengan pendapat para sahabat lainnya yang banyak dan lebih ’alim, maka (penjelasannya, red.) sebagaimana keterangan sebelum ini.</p>
<p>Sedangkan Hadits yang disangka diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi</p>
<blockquote><p>Barangsiapa mendapatkan imam di dalam ruku’, hendaklah dia ruku’ bersamanya, dan hendaklah dia mengulangi raka’at.</p></blockquote>
<p>Jawaban kami:<br />
Sebagaimana jawaban sebelumnya, kami sudah berusaha mencari hadits ini dalam Sunan Tirmidzi, namun tidak mendapatkannya. Wallahu a’lam.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>Dari keterangan di atas jelaslah, bahwa pendapat yang lebih kuat, jika ma’mum mendapatkan ruku’ imam, maka dia mendapatkan raka’at tersebut. Wallahu a’lam.</p>
<p>_______<br />
Footnote<br />
[1]. Lihat Shalatul Jama’ah, 96-98, karya Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani<br />
[2]. Al Istidzkar 6/250<br />
[3]. Al Mughni 2/77<br />
[4]. Subulus Salam 2/34<br />
[5]. Subulus Salam 2/34<br />
[6]. Kata rak’ah di sini, artinya ruku’ sesuai dengan kelanjutan hadits<br />
[7]. Shahih, riwayat Ibnu Abi Syaibah, Abdurrazaq, Ath Thahawi, Ath Thabrani, dan Al Baihaqi. Dinukil dari Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no. 229<br />
[8]. Lihat Juz’ul Qira’ah Khalfal Imam; Al Muhalla 2/274-278; Nailul Authar 2/511-514<br />
[9]. HR Bukhari dalam Juz ul Fil Qira’ah, no. 284, Penerbit Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, tanpa tahun</p>
<p style="text-align:right;">Sumber: <a href="http://almanhaj.or.id/content/2254/slash/0" target="_blank">almanhaj.or.id</a> (dengan beberapa perubahan)</p>
<br />Filed under: <a href='http://sholat.wordpress.com/category/shalat-berjamaah/'>Shalat Berjama'ah</a> Tagged: <a href='http://sholat.wordpress.com/tag/mamum-masbuq/'>ma'mum masbuq</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sholat.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sholat.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sholat.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sholat.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sholat.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sholat.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sholat.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sholat.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sholat.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sholat.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sholat.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sholat.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sholat.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sholat.wordpress.com/216/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&amp;blog=1118871&amp;post=216&amp;subd=sholat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sholat.wordpress.com/2011/08/13/apakah-mamum-masbuq-mendapatkan-rakaat-ketika-mendapati-imam-sedang-ruku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuzal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendapat Pertama: Duduk Dalam sholat Adalah Mutlak Iftirasy, Baik Duduk Diantara Dua Sujud, Tasyahud Awal, Maupun Tasyahud Akhir</title>
		<link>http://sholat.wordpress.com/2011/05/26/pendapat-pertama-duduk-dalam-sholat-adalah-mutlak-iftirasy-baik-duduk-diantara-dua-sujud-tasyahud-awal-maupun-tasyahud-akhir/</link>
		<comments>http://sholat.wordpress.com/2011/05/26/pendapat-pertama-duduk-dalam-sholat-adalah-mutlak-iftirasy-baik-duduk-diantara-dua-sujud-tasyahud-awal-maupun-tasyahud-akhir/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 May 2011 06:37:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu zalfa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Duduk Didalam Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[duduk iftirasy]]></category>
		<category><![CDATA[duduk tahiyat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sholat.wordpress.com/?p=207</guid>
		<description><![CDATA[Yaitu pendapat Imam Hanafi dan yang sepaham dengannya, bahwa duduk dalam sholat adalah mutlak iftirasy, baik duduk di antara dua sujud, tasyahud awal, maupun tasyahud akhir Pendapatnya ini berdalil dengan beberapa hadits, diantaranya yaitu: Perkataan Aisyah, istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ”Beliau Rasulullah mengucapkan tahiyyat pada setiap dua rekaat/rekaat kedua, saat itu beliau hamparkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&amp;blog=1118871&amp;post=207&amp;subd=sholat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yaitu pendapat Imam Hanafi dan yang sepaham dengannya, bahwa duduk dalam sholat adalah mutlak iftirasy, baik duduk di antara dua sujud, tasyahud awal, maupun tasyahud akhir</p>
<p>Pendapatnya ini berdalil dengan beberapa hadits, diantaranya yaitu:</p>
<p>Perkataan Aisyah, istri Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></p>
<blockquote><p>”Beliau Rasulullah mengucapkan tahiyyat pada setiap dua rekaat/rekaat kedua, saat itu beliau hamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya.” (Shahih Muslim no. 498).</p></blockquote>
<p>Perkataan Wail bin Hujr</p>
<blockquote><p>”Aku menyaksikan Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika duduk dalam shalat; beliau hamparkan telapak kaki kirinya dan menegakkan telapak kaki kanannya.” (Ibnu Khuzaimah no.691, Al-Baihaqi no.72, Ahmad no.316), Al-Thabrani no.33). Dalam riwayat Tirmidzi dengan lafal: ”Tatkala duduk tasyahud beliau hamparkan kaki kirinya dan tangan kirinya diletakan pada pahanya sementara itu kaki kanannya ditegakkannya.” (Sunan Tirmidzi no.292).</p></blockquote>
<p><span id="more-207"></span>Hadit-hadits tersebut, dan hadits lain yang senada, menunjukkan disebutkannya duduk iftirasy baik waktu tasyahud maupun bukan.</p>
<p>Dikutip dari: <a href="http://ibnuramadan.wordpress.com/2009/03/05/duduk-didalam-shalat-tawaruk-atau-iftirasy/" target="_blank">ibnuramadan.wordpress.com</a> dari: Majalah Fatawa Vol.IV/No.11/Dzulqa’dah 1429, dengan beberapa perubahan redaksi.</p>
<hr />
<p>Baca juga:</p>
<ul>
<li><a href="http://sholat.wordpress.com/2011/05/19/pendapat-kedua-duduk-dalam-shalat-adalah-tawaruk-baik-pada-tasyahud-awal-atau-aakhir-maupun-diantara-dua-sujud/">Pendapat Kedua: Duduk Dalam Shalat Adalah Tawaruk, Baik Pada Tasyahud Awal, Atau Akhir, Maupun Diantara Dua Sujud</a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://sholat.wordpress.com/2011/05/14/pendapat-ketiga-shalat-yang-memiliki-satu-tasyahud-yakni-duduk-iftirasy-dan-jika-memiliki-dua-tasyahud-tasyahud-awal-dengan-iftirasy-dan-yang-akhir-dengan-tawaruk/" target="_blank">Pendapat Ketiga: Duduk Akhir Didalam Shalat Yang Memiliki Satu Tasyahud, Yakni Duduk Iftirasy dan Jika Memiliki Dua Tasyahud, Tasyahud Awal Dengan Iftirasy dan Yang Akhir Dengan Tawaruk</a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://sholat.wordpress.com/2011/05/13/pendapat-keempat-duduk-yang-bukan-duduk-akhir-adalah-iftirasy-sedangkan-duduk-yang-dilakukan-pada-tasyahud-akhir-dengan-tawaruk/" target="_blank">Pendapat Keempat: Duduk Yang Bukan Duduk Akhir Adalah Iftirasy, Sedangkan Duduk Yang Dilakukan Pada Tasyahud Akhir Dengan Tawaruk</a></li>
</ul>
<br />Filed under: <a href='http://sholat.wordpress.com/category/duduk-didalam-sholat/'>Duduk Didalam Sholat</a> Tagged: <a href='http://sholat.wordpress.com/tag/duduk-iftirasy/'>duduk iftirasy</a>, <a href='http://sholat.wordpress.com/tag/duduk-tahiyat/'>duduk tahiyat</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sholat.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sholat.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sholat.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sholat.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sholat.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sholat.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sholat.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sholat.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sholat.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sholat.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sholat.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sholat.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sholat.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sholat.wordpress.com/207/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&amp;blog=1118871&amp;post=207&amp;subd=sholat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sholat.wordpress.com/2011/05/26/pendapat-pertama-duduk-dalam-sholat-adalah-mutlak-iftirasy-baik-duduk-diantara-dua-sujud-tasyahud-awal-maupun-tasyahud-akhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuzal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendapat Kedua: Duduk Dalam Shalat Adalah Tawaruk, Baik Pada Tasyahud Awal, Atau Akhir, Maupun Diantara Dua Sujud</title>
		<link>http://sholat.wordpress.com/2011/05/19/pendapat-kedua-duduk-dalam-shalat-adalah-tawaruk-baik-pada-tasyahud-awal-atau-aakhir-maupun-diantara-dua-sujud/</link>
		<comments>http://sholat.wordpress.com/2011/05/19/pendapat-kedua-duduk-dalam-shalat-adalah-tawaruk-baik-pada-tasyahud-awal-atau-aakhir-maupun-diantara-dua-sujud/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 May 2011 06:41:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu zalfa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Duduk Didalam Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[duduk tahiyat]]></category>
		<category><![CDATA[duduk tawaruk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sholat.wordpress.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Adalah pendapat Imam Malik, dan yang sepaham dengannya, bahwa duduk dalam shalat adalah tawaruk, baik pada tasyahud awal, atau akhir, maupun di antara dua sujud Pandangan ini dibangun di atas hadits-hadits berikut: Perkataan Abdullah Ibnu Umar : ”Bahwasanya sunnah shalat (ketika duduk) adalah engkau tegakkan telapak kaki kananmu dan melipat yang kiri!” (Shahih al-Bukhari no.793, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&amp;blog=1118871&amp;post=201&amp;subd=sholat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Adalah pendapat Imam Malik, dan yang sepaham dengannya, bahwa duduk dalam shalat adalah tawaruk, baik pada tasyahud awal, atau akhir, maupun di antara dua sujud</p>
<p>Pandangan ini dibangun di atas hadits-hadits berikut:</p>
<p>Perkataan Abdullah Ibnu Umar :</p>
<blockquote><p>”Bahwasanya sunnah shalat (ketika duduk) adalah engkau tegakkan telapak kaki kananmu dan melipat yang kiri!” (Shahih al-Bukhari no.793, bersama Fatul Bari).</p></blockquote>
<p>Perkataan Abdullah Ibnu Mas’ud : <span id="more-201"></span></p>
<blockquote><p>”Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah mengajarkan tasyahud kepadaku dipertengahan shalat dan di akhirnya.”</p>
<p>Katanya lagi,</p>
<p>”Beliau mengucapkan (tasyahud tersebut) jika duduk di pertengahan shalat dan di akhirnya di atas warik (bagian atas paha/pantat)-nya yang kiri…” (Musnad Ahmad 4369)</p></blockquote>
<p>Hadits-haduts tersebut menyebutkan adanya duduk tawaruk dalam shalat, baik di tengah maupun akhirnya.</p>
<p>Mereka juga mendasarkan pada kiyas, bahwa perbuatan tersebut adalah diulang-ulang dalam shalat, maka sesuatu yang diulang-ulang dalam shalat mestinya mempunyai satu sifat/bentuk. Seperti halnya berdiri dan sujud. (Syarh Muwatha, oleh Qadhi Abul Walid Sulaiman al-Naji)</p>
<p>Dikutip dari: <a href="http://ibnuramadan.wordpress.com/2009/03/05/duduk-didalam-shalat-tawaruk-atau-iftirasy/" target="_blank">ibnuramadan.wordpress.com</a> dari: Majalah Fatawa Vol.IV/No.11/Dzulqa’dah 1429, dengan beberapa perubahan redaksi.</p>
<hr />
<p>Baca juga:</p>
<ul>
<li><a href="http://sholat.wordpress.com/2011/05/26/pendapat-pertama-duduk-dalam-sholat-adalah-mutlak-iftirasy-baik-duduk-diantara-dua-sujud-tasyahud-awal-maupun-tasyahud-akhir/">Pendapat Pertama: Duduk Dalam sholat Adalah Mutlak Iftirasy, Baik Duduk Diantara Dua Sujud, Tasyahud Awal, Maupun Tasyahud Akhir</a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://sholat.wordpress.com/2011/05/14/pendapat-ketiga-shalat-yang-memiliki-satu-tasyahud-yakni-duduk-iftirasy-dan-jika-memiliki-dua-tasyahud-tasyahud-awal-dengan-iftirasy-dan-yang-akhir-dengan-tawaruk/" target="_blank">Pendapat Ketiga: Duduk Akhir Didalam Shalat Yang Memiliki Satu Tasyahud, Yakni Duduk Iftirasy dan Jika Memiliki Dua Tasyahud, Tasyahud Awal Dengan Iftirasy dan Yang Akhir Dengan Tawaruk</a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://sholat.wordpress.com/2011/05/13/pendapat-keempat-duduk-yang-bukan-duduk-akhir-adalah-iftirasy-sedangkan-duduk-yang-dilakukan-pada-tasyahud-akhir-dengan-tawaruk/" target="_blank">Pendapat Keempat: Duduk Yang Bukan Duduk Akhir Adalah Iftirasy, Sedangkan Duduk Yang Dilakukan Pada Tasyahud Akhir Dengan Tawaruk</a></li>
</ul>
<br />Filed under: <a href='http://sholat.wordpress.com/category/duduk-didalam-sholat/'>Duduk Didalam Sholat</a> Tagged: <a href='http://sholat.wordpress.com/tag/duduk-tahiyat/'>duduk tahiyat</a>, <a href='http://sholat.wordpress.com/tag/duduk-tawaruk/'>duduk tawaruk</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sholat.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sholat.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sholat.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sholat.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sholat.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sholat.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sholat.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sholat.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sholat.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sholat.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sholat.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sholat.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sholat.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sholat.wordpress.com/201/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&amp;blog=1118871&amp;post=201&amp;subd=sholat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sholat.wordpress.com/2011/05/19/pendapat-kedua-duduk-dalam-shalat-adalah-tawaruk-baik-pada-tasyahud-awal-atau-aakhir-maupun-diantara-dua-sujud/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuzal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendapat Ketiga: Duduk Akhir Didalam Shalat Yang Memiliki Satu Tasyahud, Yakni Duduk Iftirasy dan Jika Memiliki Dua Tasyahud, Tasyahud Awal Dengan Iftirasy dan Yang Akhir Dengan Tawaruk</title>
		<link>http://sholat.wordpress.com/2011/05/14/pendapat-ketiga-shalat-yang-memiliki-satu-tasyahud-yakni-duduk-iftirasy-dan-jika-memiliki-dua-tasyahud-tasyahud-awal-dengan-iftirasy-dan-yang-akhir-dengan-tawaruk/</link>
		<comments>http://sholat.wordpress.com/2011/05/14/pendapat-ketiga-shalat-yang-memiliki-satu-tasyahud-yakni-duduk-iftirasy-dan-jika-memiliki-dua-tasyahud-tasyahud-awal-dengan-iftirasy-dan-yang-akhir-dengan-tawaruk/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 May 2011 07:05:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu zalfa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Duduk Didalam Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[duduk iftirasy]]></category>
		<category><![CDATA[duduk tahiyat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sholat.wordpress.com/?p=195</guid>
		<description><![CDATA[Pendapat Imam Ahmad dan yang sepaham. bahwa shalat yang memiliki satu tasyahud dengan yang memiliki dua tasyahud cara duduknya berbeda. Shalat yang memiliki satu tasyahud, duduk akhirnya sama dengan cara duduk di antara dua sujud, yakni iftirasy. Sementara bila shalatnya memiliki dua tasyahud, maka tasyahud awal dengan cara iftirasy, sedangkan yang kedua dengan cara tawaruk. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&amp;blog=1118871&amp;post=195&amp;subd=sholat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pendapat Imam Ahmad dan yang sepaham. bahwa shalat yang memiliki satu tasyahud dengan yang memiliki dua tasyahud cara duduknya berbeda. Shalat yang memiliki satu tasyahud, duduk akhirnya sama dengan cara duduk di antara dua sujud, yakni iftirasy. Sementara bila shalatnya memiliki dua tasyahud, maka tasyahud awal dengan cara iftirasy, sedangkan yang kedua dengan cara tawaruk. Ini merupakan pendapat yang masyur dari Imam Ahmad. (Fathul Bari, Ibnu Rajab al-Hambali V/164).</p>
<p>Pendapat Hambali. ”Tidak boleh duduk tawaruk kecuali dalam shalat yang mempunyai dua tasyahud, duduk tawaruk dilakukan pada tasyahud yang akhir.” (Zadul Mustaqni’ Ahmad bin Hambal)<span id="more-195"></span></p>
<p>Dalilnya adalah hadits Aisyah radhiallahu ‘anha yang mengisahkan tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam</p>
<blockquote><p>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai shalat dengan takbir dan membaca dengan ‘alhamdulillahi rabbil ‘alamin’. Bila beliau rukuk, beliau tidak menegakkan kepalanya dan tidak pula menundukkannya, namun antara keduanya. Bila beliau mengangkat kepalanya dari rukuk, beliau tidak langsung sujud hingga tegak lurus. Apabila beliau bangun dari sujud, beliau tidak langsung sujud lagi hingga duduk sempurna. Serta tiap dua rekaat, beliau mengucapkan tahiyat dan duduk iftirasy.” (HR. Muslim)</p></blockquote>
<p>Jadi pendapat yang rajih (kuat), wallahu a’lam bish shawab, adalah tahiyat akhir untuk sholat yang memiliki satu tasyahud dilakukan dengan iftirasy.</p>
<p>Dikutip dari: <a href="http://ibnuramadan.wordpress.com/2009/03/05/duduk-didalam-shalat-tawaruk-atau-iftirasy/" target="_blank">ibnuramadan.wordpress.com</a> dari: Majalah Fatawa Vol.IV/No.11/Dzulqa’dah 1429 dan  <a href="http://konsultasisyariah.com/duduk-tahiyat-terakhir" target="_blank">konsultasisyariah.com</a>, dengan beberapa perubahan redaksi.</p>
<hr />
<p>Baca juga:</p>
<ul>
<li><a href="http://sholat.wordpress.com/2011/05/26/pendapat-pertama-duduk-dalam-sholat-adalah-mutlak-iftirasy-baik-duduk-diantara-dua-sujud-tasyahud-awal-maupun-tasyahud-akhir/">Pendapat Pertama: Duduk Dalam sholat Adalah Mutlak Iftirasy, Baik Duduk Diantara Dua Sujud, Tasyahud Awal, Maupun Tasyahud Akhir</a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://sholat.wordpress.com/2011/05/19/pendapat-kedua-duduk-dalam-shalat-adalah-tawaruk-baik-pada-tasyahud-awal-atau-aakhir-maupun-diantara-dua-sujud/" target="_blank">Pendapat Kedua: Duduk Dalam Shalat Adalah Tawaruk, Baik Pada Tasyahud Awal, Atau Akhir, Maupun Diantara Dua Sujud</a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://sholat.wordpress.com/2011/05/13/pendapat-keempat-duduk-yang-bukan-duduk-akhir-adalah-iftirasy-sedangkan-duduk-yang-dilakukan-pada-tasyahud-akhir-dengan-tawaruk/" target="_blank">Pendapat Keempat: Duduk Yang Bukan Duduk Akhir Adalah Iftirasy, Sedangkan Duduk Yang Dilakukan Pada Tasyahud Akhir Dengan Tawaruk</a></li>
</ul>
<br />Filed under: <a href='http://sholat.wordpress.com/category/duduk-didalam-sholat/'>Duduk Didalam Sholat</a> Tagged: <a href='http://sholat.wordpress.com/tag/duduk-iftirasy/'>duduk iftirasy</a>, <a href='http://sholat.wordpress.com/tag/duduk-tahiyat/'>duduk tahiyat</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sholat.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sholat.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sholat.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sholat.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sholat.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sholat.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sholat.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sholat.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sholat.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sholat.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sholat.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sholat.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sholat.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sholat.wordpress.com/195/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&amp;blog=1118871&amp;post=195&amp;subd=sholat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sholat.wordpress.com/2011/05/14/pendapat-ketiga-shalat-yang-memiliki-satu-tasyahud-yakni-duduk-iftirasy-dan-jika-memiliki-dua-tasyahud-tasyahud-awal-dengan-iftirasy-dan-yang-akhir-dengan-tawaruk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuzal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendapat Keempat: Duduk Yang Bukan Duduk Akhir Adalah Iftirasy, Sedangkan Duduk Yang Dilakukan Pada Tasyahud Akhir Dengan Tawaruk</title>
		<link>http://sholat.wordpress.com/2011/05/13/pendapat-keempat-duduk-yang-bukan-duduk-akhir-adalah-iftirasy-sedangkan-duduk-yang-dilakukan-pada-tasyahud-akhir-dengan-tawaruk/</link>
		<comments>http://sholat.wordpress.com/2011/05/13/pendapat-keempat-duduk-yang-bukan-duduk-akhir-adalah-iftirasy-sedangkan-duduk-yang-dilakukan-pada-tasyahud-akhir-dengan-tawaruk/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 May 2011 03:23:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu zalfa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Duduk Didalam Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[duduk tahiyat]]></category>
		<category><![CDATA[duduk tawaruk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sholat.wordpress.com/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah pendapat Imam Syafi’i dan yang sepaham. Mereka berpandangan bahwa duduk yang bukan duduk akhir adalah iftirasy, sedangkan duduk yang dilakukan pada tasyahud akhir dengan tawaruk. Tidak dibedakan antara shalat yang memiliki dua tasyahud ataupun satu tasyahud. Syafi’i berpandangan bahwa asal duduk dalam shalat adalah tawaruk. Dikecualikan sebagaimana perkataan Muzani bahwa Syafi’i berkata, ”Duduk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&amp;blog=1118871&amp;post=188&amp;subd=sholat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah pendapat Imam Syafi’i dan yang sepaham. Mereka berpandangan bahwa duduk yang bukan duduk akhir adalah iftirasy, sedangkan duduk yang dilakukan pada tasyahud akhir dengan tawaruk. Tidak dibedakan antara shalat yang memiliki dua tasyahud ataupun satu tasyahud.</p>
<p>Syafi’i berpandangan bahwa asal duduk dalam shalat adalah tawaruk. Dikecualikan sebagaimana perkataan Muzani bahwa Syafi’i berkata, ”Duduk pada rekaat kedua di atas kanannya.” (Al-Hawi al-Kabir hal.171).</p>
<p>Ibnu Rusyd mengambarkan pandangan syafi’i, ”Pada tasyahud awal mereka mengikuti madzab Hambali sementara pada tasyahud akhir mengikuti madzab Maliki.” (Bidayatul Mujtahid hal.261).</p>
<p>Hadits dari Muhammad bin Amr bin Ath’.<span id="more-188"></span></p>
<blockquote><p>Ia pernah duduk bersama sepuluh orang sahabat. Kami membincangkan shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba Abu Humaid al-Sa’idi berkata, ”Dibanding kalian aku lebih hafal tentang shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Aku pernah melihat beliau apabila bertakbir dijadikannya kedua tangannya berhadapan dengan kedua pundaknya. Apabila rukuk, beliau letakkan kedua tangannya di kedua lututnya, kemudian beliau meluruskan punggungnya. Bila mengangkat kepalanya (dari ruku), beliau berdiri lurus (i’tidal) sehingga kembali setiap tulang belakang ke tempatnya. Kemudian apabila sujud, beliau letakkan kedua tangannya tanpa menghamparkan maupun menggenggam, sementara ujung-ujung jarinya kedua kakinya dihadapkan ke kiblat. Apabila duduk pada dua rekaat (rekaat kedua), beliau duduk di atas (hamparan) kaki kirinya dengan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy). Sementara apabila duduk pada rekaat akhir, beliau majukan kaki kirinya dengan menegakkan kaki kanannya dan beliau duduk di tempatnya (di lantai alias duduk tawaruk).” (Shahih al-Bukhari no.828).</p></blockquote>
<p>Hadits tersebut ada yang menggunakan lafal lain :</p>
<p>Dalam riwayat Abdul Fadhi Abdul Hamid bin Ja’far al-Anshari al-Ausi disebutkan,</p>
<blockquote><p>”Hingga pada saat sajdah yang diikuti dengan salam”.</p></blockquote>
<p>Sementara pada riwayat Ibnu Hibban,</p>
<blockquote><p>”(Pada rekaat) yang menjadi penutup shalat beliau mengeluarkan kaki kiri dan duduk dengan tawaruk pada sisi kirinya.” (Fathul Bari II/360).</p></blockquote>
<p>Sementara itu dalam Shahih Ibni Khuzaimah (I/587). Sunan al-Tirmidzi no.304, dan Musnad Ahmad no.23088 hadits tersebut dicatat dengan redaksi:</p>
<blockquote><p>“Hingga rekaat yang padanya selesailah shalat.”</p></blockquote>
<p>Lain lagi dalam Sunan al-Nasai no.1262,</p>
<blockquote><p>“Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika pada dua rekaat yang padanya berakhirlah shalat.”</p></blockquote>
<p>Kiranya menurut pendapat keempat ini, yaitu mereka berpandangan bahwa duduk yang bukan duduk akhir adalah iftirasy, sedangkan duduk yang dilakukan pada tasyahud akhir dengan tawaruk. Tidak dibedakan antara shalat yang memiliki dua tasyahud ataupun satu tasyahud. Kesimpulan ini juga pernah diajukan oleh Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat setelah melakukan penelitian yang cukup dalam dan lama. Sebelumnya hal ini sudah ditegaskan oleh Abul Ula Mubarakfuri, ”…Pendapat yang menjadi pandangan Imam Syafi’i dan yang sepaham mempunyai nash yang jelas dan tegas. Inilah madzhab yang kuat.” (Tuhfatul Ahwadzi II/155).</p>
<p>Berbeda dengan pendapat dari pihak yang condong kepada pandangan Hambali. Bahwa menurut mereka, hadits Abu Humaid di atas khusus untuk shalat yang mempunyai dua tasyahud seperti shalat yang empat atau yang tiga rekaat, karena susunan haditsnya memang menunjukkan seperti itu. Susunan ini secara tekstual mengkhususkan bahwa duduk tawaruk hanya ada pada tasyahud yang kedua.</p>
<p><strong>Jawabannya:</strong> Sebenarnya yang dipersoalkan adalah shalatnya Rasulullah<em> Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, bukan masalah empat rekaatnya. Kita coba urutkan hadits Abu Humaid di muka:</p>
<p><strong>Pertama:</strong> Berkata Muhammad bin Amr bin Atha’, ”Kami memperbincangkan shalat Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>”. Ini menunjukkan bahwa para sahabat sebanyak sepuluh orang bersama Muhammad bin Amr bin Atha’ tengah membahas sifat shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p><strong>Kedua:</strong> Berkata Abu Humaid al-Sa’di mengatakan secara umum kepada sahabat-sahabat lainnya bahwa dia paling tahu tentang sifat shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian menjelaskan tanpa ,mengkhusukan shalat yang 2, 3, atau 4 rekaat.</p>
<p><strong>Ketiga:</strong> Di antara al-Sa’idi ialah: mengangkat kedua tangan, rukuk, i’tidal, dan sujud. Apakah semua sifat shalat tersebut khusus untuk shalat yang empat rekaat?</p>
<p>Kemudian hadits Abdullah bin Mas’ud yang dicatat oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihahnya no.670 memperkuat hadits Abu Humaid tersebut.</p>
<p>Dipertegas dan diperkuat dengan hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, ”Jika engkau duduk di pertengahan shalat bersikaplah tentang (thuma’ninah) dan hamparkan paha kirimu (duduk iftirasy), lalu lakukanlah tasyahud.” (Sunan Abu Dawud no.802, menurut Al-Albani sanadnya hasan, dalam Ashlu Shafatis Shalah, Al-Albani: III/831-832).</p>
<p>Abu Humaid membedakan antara duduk di akhir shalat dengan duduk yang bukan di akhiri shalat. Tatkala beliau menjelaskan tentang duduk yang bukan akhir shalat, beliau menyebutnya dengan lafal ”<em>Jika duduk pada rekaat kedua beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan (duduk iftirasy)</em>”. Lafal ini menunjukan bahwa duduk iftirasy dilakukan dipertengahan shalat, bukan akhir shalat. Yang dimaksud ”<em>arrak’atain</em>” bukan ”<em>dua rekaat</em>”, tetapi ”<em>rekaat yang bukan akhir shalat</em>” alias rekaat kedua. Jadi hadits ini menjelaskan bahwa duduk iftirasy dilakukan dipertengahan shalat. Sedangkan lafal hadits Abu Humaid ”d<em>an jika beliau duduk pada rekaat terakhir</em>”, dengan berbagai lafalnya merupakan nash yang bersifat manthuq sharih (penunjukan lafal yang sesuai pada ucapannya); hal ini lebih didahulukan daripada mafhum. Hadits Aisyah, Ibnu Hujr, Ibnu Zubair tentang duduk iftirasy adalah umum sebagaimana hadits Ibnu Umar tentang tawaruk; tidak disebutkan apakah pada pertengahan shalat ataukah diakhirnya. Karena itu hadits yang umum (mutlak) tersebut dibawa kepada yang muqattad (mengikat khusus), pada hadits Abu Humaid dimuka.</p>
<p>Perlu diingat pula bahwa shalat yang dimaksud satu tidak hanya yang dua rekaat, dalam shalat witir ada satu, tiga rekaat. Ada juga empat rekaat dan lima rekaat dengan satu tasyahud. Apakah kiranya ada hadits yang menjelaskan tentang duduk selain dua re kaat? Pemahaman Imam Syafi’i di muka memecahkan masalah ini. Tetapi ada yang menarik dari ungkapan Imam Nawawi, dari madzhab Syafi’i, ”<em>Seandainya seorang ketika pada posisi duduk, kapanpun, dengan iftirasy, tawaruk, bersila, iq’a, atau bahkan selonjor tetaplah sah shalatnya meskipun itu menyelisihi.</em>” (Syarh Shahih Muslim, hal.438). Wallahu a’lam.</p>
<p style="text-align:left;">Dikutip dari: <a href="http://ibnuramadan.wordpress.com/2009/03/05/duduk-didalam-shalat-tawaruk-atau-iftirasy/" target="_blank">ibnuramadan.wordpress.com</a> dari: Majalah Fatawa Vol.IV/No.11/Dzulqa’dah 1429, dengan beberapa perubahan redaksi.</p>
<hr />
<p>Baca juga:</p>
<ul>
<li><a href="http://sholat.wordpress.com/2011/05/26/pendapat-pertama-duduk-dalam-sholat-adalah-mutlak-iftirasy-baik-duduk-diantara-dua-sujud-tasyahud-awal-maupun-tasyahud-akhir/">Pendapat Pertama: Duduk Dalam sholat Adalah Mutlak Iftirasy, Baik Duduk Diantara Dua Sujud, Tasyahud Awal, Maupun Tasyahud Akhir</a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://sholat.wordpress.com/2011/05/19/pendapat-kedua-duduk-dalam-shalat-adalah-tawaruk-baik-pada-tasyahud-awal-atau-aakhir-maupun-diantara-dua-sujud/" target="_blank">Pendapat Kedua: Duduk Dalam Shalat Adalah Tawaruk, Baik Pada Tasyahud Awal, Atau Akhir, Maupun Diantara Dua Sujud</a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://sholat.wordpress.com/2011/05/14/pendapat-ketiga-shalat-yang-memiliki-satu-tasyahud-yakni-duduk-iftirasy-dan-jika-memiliki-dua-tasyahud-tasyahud-awal-dengan-iftirasy-dan-yang-akhir-dengan-tawaruk/" target="_blank">Pendapat Ketiga: Duduk Akhir Didalam Shalat Yang Memiliki Satu Tasyahud, Yakni Duduk Iftirasy dan Jika Memiliki Dua Tasyahud, Tasyahud Awal Dengan Iftirasy dan Yang Akhir Dengan Tawaruk</a></li>
</ul>
<br />Filed under: <a href='http://sholat.wordpress.com/category/duduk-didalam-sholat/'>Duduk Didalam Sholat</a> Tagged: <a href='http://sholat.wordpress.com/tag/duduk-tahiyat/'>duduk tahiyat</a>, <a href='http://sholat.wordpress.com/tag/duduk-tawaruk/'>duduk tawaruk</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sholat.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sholat.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sholat.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sholat.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sholat.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sholat.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sholat.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sholat.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sholat.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sholat.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sholat.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sholat.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sholat.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sholat.wordpress.com/188/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&amp;blog=1118871&amp;post=188&amp;subd=sholat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sholat.wordpress.com/2011/05/13/pendapat-keempat-duduk-yang-bukan-duduk-akhir-adalah-iftirasy-sedangkan-duduk-yang-dilakukan-pada-tasyahud-akhir-dengan-tawaruk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuzal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Takbir Intiqal</title>
		<link>http://sholat.wordpress.com/2011/05/12/takbir-intiqal/</link>
		<comments>http://sholat.wordpress.com/2011/05/12/takbir-intiqal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 May 2011 09:14:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu zalfa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Takbir Intiqal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sholat.wordpress.com/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[Intiqal artinya perpindahan, takbir intiqal berarti takbir yang diucapkan pada saat berpindah dari satu posisi ke posisi lainnya di dalam shalat, misalnya dari berdiri ke ruku’, dari ruku’ ke sujud. Pendapat yang shahih di kalangan ulama adalah disyariatkannya takbir ini berdasarkan beberapa hadits shahih yang menetapkannya, di antaranya: Dari Abu Hurairah bahwa apabila Rasulullah Shalallahu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&amp;blog=1118871&amp;post=181&amp;subd=sholat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Intiqal artinya perpindahan, takbir intiqal berarti takbir yang diucapkan pada saat berpindah dari satu posisi ke posisi lainnya di dalam shalat, misalnya dari berdiri ke ruku’, dari ruku’ ke sujud.</p>
<p>Pendapat yang shahih di kalangan ulama adalah disyariatkannya takbir ini berdasarkan beberapa hadits shahih yang menetapkannya, di antaranya:</p>
<blockquote><p>Dari Abu Hurairah bahwa apabila Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wasalam berdiri shalat beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika ruku’, kemudian mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’ ketika mengangkat tulang sulbinya dari ruku’, kemudian mengucapkan pada saat berdiri, ‘Rabbana walakal hamdu’, kemudian bertakbir ketika turun untuk sujud, kemudian bertakbir ketika bangkit dari sujud, kemudian bertakbir ketika sujud, kemudian bertakbir ketika mengangkat kepala dari sujud, kemudian beliau melakukan hal itu dalam seluruh shalatnya sampai selesai. Beliau juga bertakbir ketika bangkit dari dua rakaat setelah duduk. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Dari Mutharrif bin Abdullah bin asy-Syikhkhir berkata, “Aku shalat di belakang Ali bin Abu Thalib bersama Imran bin Hushain, jika dia sujud dia bertakbir, jika dia mengangkat kepalanya dia bertakbir, jika dia bangkit dari dua rakaat dia bertakbir. Selesai shalat Imran memegang tanganku, dia berkata, “Orang ini telah mengingatkanku dengan shalat Muhammad saw.” Atau dia berkata, “Orang ini telah shalat bersama kami dengan shalat Muhammad Shalallahu &#8216;alaihi wasalam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).</p></blockquote>
<p><span id="more-181"></span><br />
Perbedaan terjadi di antara para ulama, apakah takbir intiqal ini wajib?</p>
<p>Jumhur ulama di antara mereka adalah Imam yang tiga Abu Hanifah, Malik dan asy-Syafi&#8217;i berpendapat, takbir intiqal sunnah tidak wajib. Sementara Imam Ahmad berpendapat, takbir intiqal wajib.</p>
<p>Jumhur ulama berpedoman kepada hadits tentang pengajaran Nabi saw kepada seorang laki-laki yang shalat dengan tidak baik, di dalamnya Nabi saw tidak menyinggung takbir intiqal, padahal yang beliau ajarkan merupakan perkara-perkara mendasar di dalam shalat, ini menunjukkan bahwa takbir intiqal bukan wajib, karena jika ia wajib maka Nabi Shalallahu &#8216;alaihi wasalam pasti mengajarkannya kepada laki-laki itu.</p>
<blockquote><p>Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wasalam masuk masjid, lalu seorang laki-laki masuk dan shalat, kemudian dia datang seraya memberi salam kepada Nabi Shalallahu &#8216;alaihi wasalam, beliau bersabda, “Kembalilah, shalatlah karena kamu belum shalat.” Maka dia kembali, dia shalat seperti dia shalat (pada kali pertama), kemudian dia datang seraya memberi salam kepada Nabi Shalallahu &#8216;alaihi wasalam, beliau bersabda, “Kembalilah, shalatlah karena kamu belum shalat.” Hal ini terulang tiga kali. Lalu laki-laki itu berkata, “Demi dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa selainnya, ajarilah aku.” Nabi Shalallahu &#8216;alaihi wasalam bersabda, “Jika kamu berdiri shalat maka bertakbirlah, kemudian bacalah al-Qur`an yang mudah bagimu, kemudian ruku’lah sehingga kamu bertuma’ninah dalam keadaan ruku’, kemudian bangkitlah sehingga kamu beri’tidal dalam keadaan berdiri, kemudian sujudlah sehingga kamu bertuma’ninah dalam keadaan sujud, kemudian bangkitlah sehingga kamu bertuma’ninah dalam keadaan duduk. Lakukanlah hal itu dalam seluruh shalatmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).</p></blockquote>
<p>Adapun apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan Mutharrif bin Abdullah di atas maka ia hanya sebatas perbuatan, dan sekedar perbuatan tidak menetapkan kewajiban. Ini menurut jumhur ulama.</p>
<p>Imam Ahmad melihat bahwa Nabi Shalallahu &#8216;alaihi wasalam selalu menjaga takbir ini sebagaimana dalam dua hadits di atas, pada saat yang sama beliau bersabda,</p>
<blockquote><p>“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Al-Bukhari dari Malik bin al-Huwairits).</p></blockquote>
<p>Di samping itu dalam hadits tentang pengajaran Nabi Shalallahu &#8216;alaihi wasalam kepada seorang laki-laki yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan an-Nasa`i dari Rifa’ah bin Rafi’ terdapat tambahan takbir-takbir lain selain takbiratul ihram.</p>
<blockquote><p>Rifa’ah bin Rafi’ berkata, aku sedang duduk di sisi Nabi Shalallahu &#8216;alaihi wasalam, tiba-tiba seorang laki-laki datang kepada beliau, dia masuk masjid lalu dia shalat.. –Selanjutnya terjadi apa yang terjadi dalam hadits Abu Hurairah- Laki-laki itu berkata, “Aku tidak mengerti apa yang salah dariku?” Maka Nabi Shalallahu &#8216;alaihi wasalam bersabda, “Sesungguhnya shalat salah seorang di antara kalian tidak sempurna sehingga dia menyempurnakan wudhu sebagaimana yang Allah perintahkan&#8230;Kemudian dia bertakbir dan ruku’….Kemudian dia bertakbir dan sujud…” Di akhir hadits Nabi Shalallahu &#8216;alaihi wasalam bersabda, “Shalat salah seorang dari kalian tidak sempurna sehingga dia melakukan itu.” Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no. 536/15.</p></blockquote>
<p>Penulis berkesimpulan, lebih bijak tidak melihat masalah ini dari sisi hukum, wajib dan tidaknya, akan tetapi melihat dari sisi bahwa ia merupakan salah satu syiar shalat dan ia sebagai sebuah sunnah Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wasalam yang selalu beliau lakukan. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shalallahu &#8216;alaihi wasalam. Wallahu a&#8217;lam.(Izzudin Karimi)</p>
<p style="text-align:right;">Sumber: <a href="http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatfiqih&amp;id=115" target="_blank">alsofwah.or.id</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://sholat.wordpress.com/category/takbir-intiqal/'>Takbir Intiqal</a> Tagged: <a href='http://sholat.wordpress.com/tag/takbir-intiqal/'>Takbir Intiqal</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sholat.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sholat.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sholat.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sholat.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sholat.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sholat.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sholat.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sholat.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sholat.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sholat.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sholat.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sholat.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sholat.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sholat.wordpress.com/181/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&amp;blog=1118871&amp;post=181&amp;subd=sholat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sholat.wordpress.com/2011/05/12/takbir-intiqal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuzal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Letak Perbedaan Pendapat Dalam Masalah Menyentuh Bumi Ketika Sujud</title>
		<link>http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/letak-perbedaan-pendapat-dalam-masalah-menyentuh-bumi-ketika-sujud/</link>
		<comments>http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/letak-perbedaan-pendapat-dalam-masalah-menyentuh-bumi-ketika-sujud/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 02:23:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu zalfa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Yang Lebih Dulu Menyentuh Bumi Ketika Sujud]]></category>
		<category><![CDATA[Ketika Sujud]]></category>
		<category><![CDATA[Meletakkan Lutut]]></category>
		<category><![CDATA[Meletakkan Tangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sholat.wordpress.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Dalam praktek shalat, sebagian kaum muslimin ada yang meletakkan tangan dahulu sebelum lutut pada saat akan sujud dan ada yang sebaliknya lutut dahulu kemudian tangan. Lalu mana yang benar dalam masalah ini !. Sebelum menguraikan perbedaan pendapat para ulama dan dalil setiap pendapat dalam masalah ini, terlebih dahulu kami akan detailkan letak perbedaan pendapat para ulama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&amp;blog=1118871&amp;post=143&amp;subd=sholat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam praktek shalat, sebagian kaum muslimin ada yang meletakkan tangan dahulu sebelum lutut pada saat akan sujud dan ada yang sebaliknya lutut dahulu kemudian tangan. Lalu mana yang benar dalam masalah ini !.</p>
<p>Sebelum menguraikan perbedaan pendapat para ulama dan dalil setiap pendapat dalam masalah ini, terlebih dahulu kami akan detailkan letak perbedaan pendapat para ulama tersebut guna memahami masalah ini dengan baik dan benar.</p>
<p>Mendetailkan letak perbedaan pendapat termasuk perkara yang penting. Dan menelantarkan hal tersebut akan menimbulkan beberapa dampak yang negatif, diantaranya :</p>
<ul>
<li>Penggambaran masalah tidak di atas hakikat sebenarnya.</li>
<li>Timbulnya ketimpangan dalam penerapan masalah.</li>
<li>Lahirnya masalah-masalah lain yang membuat permasalahan tersebut semakin rumit dan bertele-tele.</li>
<li>Bisa mengantar ke jalur berlebihan dalam masalah agama, padahal sikap berlebihan tersebut merupakan perkara yang tercela dalam syari’at Islam yang penuh dengan kemudahan ini.</li>
</ul>
<p><strong>Letak Perbedaan Pendapat Dalam Masalah Ini</strong><span id="more-143"></span></p>
<p>Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa 22\449 :</p>
<blockquote><p>“Adapun sholat dengan keduanya (yaitu dengan meletakkan lutut sebelum tangan atau meletakkan tangan sebelum lutut-pent.) adalah boleh menurut kesepakatan para ‘ulama. Bila orang yang sholat menginginkan, (boleh) ia meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya dan bila ia menginginkan, (boleh) ia meletakkan kedua tangannya kemudian kedua lututnya dan sholatnya shohihah (sah/benar) pada dua keadaan (tersebut) menurut kesepakatan para ‘ulama. Tapi (para ‘ulama) berselisih tentang (mana) yang lebih afdhol”.</p></blockquote>
<p>Dari uraian Ibnu Taimiyah di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :</p>
<ul>
<li>Para ulama sepakat bahwa siapa yang sholat, baik ia meletakkan tangan dahulu kemudian lutut ketika akan sujud atau ia mendahulukan lutut lalu tangannya, maka shalatnya adalah sah dan benar.</li>
<li>Para ulama sepakat bahwa meletakkan tangan dahulu kemudian lutut atau sebaliknya, keduanya adalah perkara yang boleh dilakukan dalam shalat.</li>
<li>Letak perbedaan pendapat para ulama hanyalah pada yang mana lebih afdhol (utama) antara meletakkan tangan dahulu lalu lutut dan mendahulukan lutut kemudian tangan.</li>
</ul>
<p><strong>Uraian Pendapat Para Ulama</strong></p>
<p>Tentang mana lebih afdhol antara meletakkan tangan dahulu lalu lutut atau mendahulukan lutut kemudian tangan, ada tiga pendapat dikalangan para ‘ulama :</p>
<p><strong><a href="http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/pendapat-pertama-tangan-dahulu-kemudian-lutut/">Pendapat pertama:</a></strong> Tangan dahulu kemudian lutut. Ini pendapat Imam Al-Auza’iy dan salah satu riwayat dari Imam Malik dan Imam Ahmad. Bahkan Ibnu Hazm berlebihan dalam menguatkan pendapat ini sehingga beliau menganggap bahwa meletakkan tangan sebelum lutut adalah perkara yang wajib.</p>
<p><strong><a href="http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/pendapat-kedua-lutut-dahulu-kemudian-tangan/">Pendapat kedua:</a></strong> Lutut dahulu kemudian tangan. Ini pendapat Muslim bin Yasar, An-Nakh’iy, Sufyan Ats-Tsaury, Abu Hanifah dan dua muridnya Muhammad dan Abu Yusuf, Asy-Syafi’iy, Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan Ibnul Mundzir. Pendapat ini juga dihikayatkan dari ‘Umar bin Khaththab dan anaknya ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhuma. At-Tirmidzy dan Al-Khaththaby mengatakan bahwa ini adalah pendapat kebanyakan para ‘ulama.</p>
<p><strong><a href="http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/pendapat-ketiga-boleh-tangan-dahulu-kemudian-lutut-dan-boleh-lutut-dahulu-kemudian-tangan/">Pendapat ketiga:</a></strong> Boleh tangan dahulu kemudian lutut dan boleh lutut dahulu kemudian tangan. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Malik dan Ahmad.</p>
<p>Baca : Al-Mughny 2/193, Al-Inshof 1/65, Al-Majmu’ 3/395, Syarah Ma’any Al-Astar 1/254-256, Al-Muhalla 4/128, Al-Fatawa 22/449 dan Fathul Bary 2/291.</p>
<hr />
<p style="text-align:left;">Disalin dari <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/10/15/lutut-atau-tangankah-yang-lebih-dulu-menyentuh-bumi-ketika-sujud/">qurandansunnah.wordpress.com</a> dengan beberapa perubahan</p>
<br />Posted in Yang Lebih Dulu Menyentuh Bumi Ketika Sujud Tagged: Ketika Sujud, Meletakkan Lutut, Meletakkan Tangan <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sholat.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sholat.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sholat.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sholat.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sholat.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sholat.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sholat.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sholat.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sholat.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sholat.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sholat.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sholat.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sholat.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sholat.wordpress.com/143/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sholat.wordpress.com&amp;blog=1118871&amp;post=143&amp;subd=sholat&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sholat.wordpress.com/2009/11/19/letak-perbedaan-pendapat-dalam-masalah-menyentuh-bumi-ketika-sujud/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">abuzal</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
